Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kini baru saja merampungkan sebuah survei guna menilai efektivitas kebijakan kantong plastik berbayar. Survei yang dilakukan dengan metode investigasi ini ditujukan untuk bagaimana praktik realisasi kebijakan ini di lapangan.

“Survei inipun tengah kami laksanakan pada Maret 2016 di 25 gerai dari 15 nama ritel terkemuka di wilayah Jakarta. Selain tujuannya ialah untuk mengetahui efektivitas penerapannya, kami pun ingin mengetahui persepsi konsumen terhadap kebijakan ini,” jelas Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi Raya di Markas YLKI Pancoran, Jakarta.

Tulus mengutarakan, bahwa hasil survei itu mengunjukkan seluruh ritel yang disurvei sudah menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar dengan harga Rp200 per kantong plastik. Namun didapati belum semua ritel yang menyediakan kantong belanja alternatif.

“Belum semua biarpun harga kantong belanja alternatif mahal sekira Rp4.900-69.900. Alternatif kardus bekas pun belum tersedia di sebagian ritel,” imbuhnya.

Selain itu, disaat sekarang ini masih ada sekitar 12 persen ritel yang tak mencantumkan papan informasi uji coba kebijakan tersebut. Ada beberapa yang sudah melakukannya namun penempatan papan informasinya tidak tepat sehingga tidak terlihat oleh konsumen.

“Kemudian 52% kasir yang diwawancarai mengakui dirinya sudah ditraining tuk sosialisasi ke konsumen, tapi kenyataannya sebanyak 88 persen kasir tidak memberikan penjelasan tambahan tentang kebijakan dan SOP nya belum seragam. Ada kasir yang tidak menanyakan konsumen mau pakai kantong plastik atau tidak,” terangnya.

Sehingga masih ada 56% konsumen yang menyatakan keluhannya kepada kasir. Mereka mempertanyakan ketidakjelasannya pengelolaan dana hasil penjualan kantong plastik. Kemudian masih ada 34 persen konsumen yang belum mengetahui tujuan dari kebijakan tersebut.

Tapinya sebanyak 26,1% konsumen sudah memiliki persepsi bahwa kebijakan ini hadir untuk mengurangi sampah dan menjaga lingkungan. Sehingga sarang utama dari 35,3 persen konsumen agar meniadakan kantong plastik.