Bagi pemuda bernama Andri Waryadi, usaha seblak adalah pilihan yang tepat untuk digeluti. Karena, usaha makanan unik ini tengah trend di Tanah Air dan sudah semakin menjamur pelaku usahanya. Kesuksesan Andri dibuktikannya dengan dimilikinya 39 mitra yang tersebar di beberapa daerah.

Usaha ini mulai digeluti Andri sejak tahun 2012 lalu, tepatnya setelah ia merasakan kejenuhan dalam bekerja sebagai seorang karyawan. Mempunyai seorang istri yang pintar memasak membulatkan tekad Andri untuk menciptakan beragam menu seblak yang nikmat.

Tak hanya menawarkan menu seblak yang beragam, usaha yang dinamainya Seblak Raja Pedas itu menawarkan juga tingkatan kepedasan guna memikat perhatian dan minat para konsumennya. Setelah satu tahun bisnis seblaknya beroperasi, tepatnya di tahun 2013, Andri menerapkan sistem kemitraan guna mengembangkan usaha miliknya.

Dengan bermodalkan investasi sebesar Rp 16 juta, setiap mitranya berhak mendapatkan kebutuhan usaha, seperti booth, bahan baku, perlengkapan masak, dan juga kebutuhan lainnya. Dalam sistem kerja sama tersebut, seluruh laba yang diperoleh mitra usahanya akan dimiliki sepenuhnya.

Guna mempertahankan kualitas cita rasa seblaknya, setiap mitranya diwajibkan untuk membeli bahan baku bumbu di pusat. Sedangkan kontrak kerja yang diberlakukan adalah selama 3 tahun. Apabila setiap mitranya tertarik untuk memperpanjang, mereka harus membayar 70 % dari investasi awalnya.

usaha-seblak

Andri juga menawarkan kemitraan sistem syariah dengan besarnya investasi Rp 19 juta. Bagi mitra yang memilih jenis investasi ini, pihak pusatlah yang mempersiapkan serta menjalankan usahanya. Dalam hal ini, Andri telah mempersiapkan konsep bisnis yang begitu baik sehingga setiap mitra yang terlibat akan mengetahui semua hal terkait usaha mereka setiap harinya.

Menariknya, pihak pusat menjamin mitranya mendapatkan omzet setiap bulannya. Andri menuturkan, apabila usaha mitranya tidak mampu mencapai target yang diharapkan atau di bawah 50% per bulannya, maka omzet tersebut bakal digantikan dengan keuntungan yang diperoleh dari usaha seblak miliknya. Dengan kata lain, mitra usaha akan meraup keuntungan bagi hasil 50 % dari laba bersihnya.

Berdasarkan pengalaman yang didapat dari mitra usaha seblak ini, laba bersih yang diperoleh sebesar Rp Rp 2 sampai Rp 4 juta setiap bulannya. Dengan laba sebesar itu, setiap mitra akan mampu mencapai break event point selama 6 bulan.

Hebatnya, baru 3 tahun usaha seblaknya beroperasi, Adri sudah mempunyai 15 gerai milik Mitra Mandiri, 14 cabang milik sendiri, dan 24 gerai milik Mitra Syariah yang keberadaannya tersebar di Bandung, Jakarta, Depok, Bogor, dan juga Bekasi.

Untuk meningkatkan variasi produknya, tepatnya pada Januari 2016, Andri telah menciptakan produk seblak instan yang dijajakan melalui minimarket. Keberhasilan Andri dalam merintis usaha seblak ini tak terluput dari survey tempat serta training yang baik.

Untuk proses surveinya sendiri, Andri menyiapkan tim khusus yang proses surveinya berjalan selama 3 hari, yakni dari pagi sampai malam hari. Hal tersebut dilakukannya untuk mengetahui pangsa pasar sampai pesaing usahanya.

Hal yang sama pun diberlakukan dalam pada training karyawannya untuk menghasilkan tenaga kerja yang mempunyai skill sesuai dengan kebutuhannya. Lantaran dalam usaha seblak ini membutuhkan kecepatan dalam memasak, maka Andri memberlakukan training karyawannya selama 1 minggu sampai 1 bulan.

Dalam menjalani usaha seblak ini, Andri mengaku tidak menjumpai kendala yang terlalu berat. Tapinya ia masih kesulitan untuk mendapatkan tenaga-tenaga kerja yang kemampuannya sesuai dengan apa yang diharapkannya.