Barcelona bisa mengenang memori buruknya Real Madrid pada La Liga 2003-2004. La Blaugrana sempat berdiri kokoh di puncak klasemen musim ini, tapinya terancam gagal juara karena membuang poin dalam beberapa laga terakhir.

Kritis pasukan Luis Enrique dimulai sejak 2 April 2016, disaat mereka kalah 1-2 dari Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu. Termasuk pertandingan itu, Barcelona menderita tiga kekalahan secara beruntun.

Jarak poin antara Barcelona dengan dua kompetitor, Atletico Madrid dan Real Madrid, secara otomatis terpotong. Kini, mereka cuma unggul selisih gol dan head to head atas Los Rojiblancos dan satu poin atas Los Blancos.

Jikalau nantinya tren negatif berlanjut, Barcelona mengulang kisah Real Madrid 12 tahun lalu. Madrid yang diasuh Carlos Queiroz ketika itu, harus merelakan gelar liga lantaran menelan enam kekandasan dalam tujuh partai terakhir.

Sebelum pekan ke-32, Madrid masih berkedudukan pemuncak klasemen dengan keunggulan satu angka atas Valencia. Kekalahan Madrid dari Albacete, 4 April 2004, memicu pertukaran posisi Los Blancos dan Los Che.

Menariknya, tujuh kekalahan itu mencaplok laga tandang El Clasico, 25 April 2004. Enrique sempat bermain selama 33 menit dalam laga itu.

Madrid pun menutup ajang di urutan keempat atau tercantol tujuh poin dengan Valencia, yang menjadi juara. Mengenai Barcelona bercokol di peringkat kedua dengan 72 angka.

Ada tali merah lainnya. Madrid juga terlengser di babak semifinal Liga Champions oleh AS Monaco. Luis Figo pun melihat ada yang salah dari rentetan hasil negatif dua bekas timnya itu. Dia tergabung dalam skuad Madrid pada 2003-2004.

Beberapa kekalahan ini tidak logis. Tapinya, hal ini adalah dinamika, bukan masalah kualitas pemain. Saya juga tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada era Queiros,” imbuh dia.