Liga Champions – Salah satu transformasi formasi yang diterapkan Massimiliano Allegri musim ini kepada kesebelasan asal Turin, Juventus adalah taktik formasi yang ia terapkan. Selepas beberapa musim terakhir dengan strategi tiga bek, Allegri pun memilih untuk berpaling pada strategi yang bisa dikatakan lebih sering diterapkan juru racik modern, yaitu empat pemain belakang dengan barisan 4-2-3-1.

Semenjak berpaling ke strategi tersebut, Bianconeri telah mengemas enam kemenangan di enam laga yang mereka jalani. Dalam deretan tersebut, kesebelasan asal Turin mengantongi 11 gol dan hanya kecolongan satu gol. Sempat disangsikan bisa bertahan menghadapi klub papan atas, kemenangan atas Internazionale dan AC Milan dalam sederet laga di atas sepertinya semakin menguatkan opini bahwa La Vecchia Signora kini sudah tidak lagi bergantung pada strategi tiga pemain belakang.

Massimiliano Allegri (Juventus)

Salah satu kiat kesuksesan strategi baru Allegri tersebut adalah performa dua pemain sayapnya. Sementara Cuadrado adalah pemain sayap alami, pertimbangan Allegri untuk memposisikan Mandzukic pun menjadi salah satu pertimbangan yang cukup vital. Bahkan, bisa dikatakan kedatangan pemain berpaspor Kroasia tersebut merupakan titik keberhasilan skema Allegri, ungkapan syukur pun dikeluarkan oleh Allegri kepada kerja keras yang ditampilkan oleh pemain berkebangsaan Kroasia tersebut.

Namun, sangat terburu-buru bila mengatakan taktik baru Allegri tersebut telah teruji kehebatannya. Juru taktik La Vecchia Signora sendiri mengungkapkan jika cobaan terberat untuk formasi skuat asuhannya adalah pertarungan di Liga Champions. Di pertandingan babak perdelapan final kontra Porto yang telah menunggu mereka dan Allegri yang akan mempertahankan formasi tersebut di kejuaraan Eropa, tentu ini menjadi saat-saat yang pas untuk membuktikan formasi tersebut.

Walau bukan merupakan klub raksasa seperti Bayern Muenchen atau Real Madrid, The Dragons tetap merupakan kesebelasan yang wajib diwaspadai. Rekor kandang Porto di Liga Champions musim ini cukup baik, dimana Leicester sempat mereka tumbangkan dengan skor 5-0. Musim lalu, Bayern dan Chelsea pun merasakan tekanan Dragao yang memang kurang bersahabat.

Dengan opini dari Allegri itu, laga antara kedua kubu tentu akan bergulir atraktif. Dua kubu ini sama-sama membukukan hasil fantastis pada ajang domestik mereka. La Vecchia Signora baru saja memetik kemenangan atas Palermo yang merupakan kemenangan keenam berturut-turut mereka. Begitu juga dengan Porto yang kini menghuni peringkat teratas Liga Portugal, dan juga membukukan enam kemenangan berderet.

Laga di Liga Champions memang tidak bisa disetarakan dengan laga di Serie A. Allegri tidak bisa mencoba-coba hal baru begitu saja karena peluang berlaga di rumah sendiri pada putaran perdelapan final tentu cuma datang satu kali. Sekali mereka tergelincir, kemungkinan mereka untuk bisa kembali menemukan pola pada leg kedua akan terasa sangat sukar.