Pelukis Art Brut Dwi Puro Mulyono
Pelukis Art Brut Dwi Puro Mulyono / Okezone

Mungkin Anda asing mendengar dengan istilah lukisan Art Brut. Lukisan Art Brut adalah sebuah karya seni yang diciptakan oleh penyandang gangguan mental, seperti halnya seorang pelukis di Pasar Seni ITB ini, Dwi Putro Mulyono, Ia penderita skizofrenia yang telah menghasilkan ribuan karya di galerinya dan karyanya menjadi perhatian banyak orang.

Sebenarnya lukisan Art Brut ini sudah lama sekali dikenal oleh masyarakat luar negeri. Lukisan ini pertama kali diperkenalkan oleh Adolf Wolfli pada tahun 1864-1930. Dia ini adalah salah satu pasien tetap sebuah rumah sakit jiwa pada tahun 1899. Selama di dalam rumah sakit jiwa, dia melukis dan membuat tulisan-tulisan hingga mencapai 25 ribu lembar catatan dan 1.600 lembar lukisan ilustratif.

Seperti dilansir dari okezone(28/11), lukisan Art Brut Adolf Wolfli ini kemudian ditemukan oleh seniman Perancis bernama Jean Dubuffet pada tahun 1945, dan ia menyebutnya art brut. Art brut sendiri berasal dari Bahasa Prancis yang artinya rough art (seni kasar) dan raw art (seni mentah).

Dwi Putro Mulyono alias Pakwi adalah seorang pelukis art brut yang mengalami gangguan pendengaran dan kesulitan berbicara serta merangkai kata-kata sejak kelas 3 SD. Kondisinya kemudian memburuk dan sering mengamuk tanpa sebab. Tetapi meskipun begitu, karya dari Pakwi ini ternyata bisa mencuri perhatian masyarakat sekitar Pasar Seni ITB.

Lukisannya tidak terpaku pada gaya atau aliran tertentu, melainkan selalu mengikuti kata hatinya. Ia biasa menggambar wayang, bunga, daun kuping gajah, angsa, ikan, katak, ayam, ember, kupu-kupu, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini sudah ribuan karya yang dihasilkan pria berusia 51 tahun ini. Di antara para penderita skizofrenia lainnya yang juga melakukan terapi melukis, ia merupakan yang paling produktif.

Tahun lalu, Pakwi nyaris empat hari tidak tidur ketika menyelesaikan lukisan di kanvas sepanjang 88 meter dengan lebar 1,2 meter. Kanvas yang penuh dengan gambar-gambar wayang purwa dalam kisah Mahabharata yang diadaptasi masyarakat Jawa itu berhasil diselesaikannya dalam waktu empat hari 15 jam 40 menit pada 9 September 2013 lalu. Dan ia diganjar piagam Rekor MURI sebagai pemecah rekor penderita gangguan mental yang berhasil melukis sepanjang 88 meter.

Pakwi bahkan telah sukses menggelar pameran tunggal pada 10 Oktober 2013 lalu. Lukisan-lukisan dengan beragam ukuran dan berbagai media sukses menyedot perhatian para penikmat seni yang hadir. Gaya lukisannya yang sering disebut seni Sapa Nyana atau siapa sangka ini juga telah menghiasai sudut kota Yogyakarta.

Menyadari betapa mengagumkannya karya-karya dan sosok Pakwi, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengajak Pakwi untuk terlibat dalam pasar seni terbesar di Asia Tenggara, yakni Pasar Seni ITB 2014. Ia membawa lukisan-lukisan hasil karyanya ke pagelaran seni yang menyedot perhatian 500 ribu orang pada 23 November lalu.

“Kehadiran Pakwi di Pasar Seni ITB 2014 merupakan bukti nyata bahwa karya seni merupakan milik semua orang, karena karya seni merupakan bentuk refleksi kreativitas individual. Tidak terlepas dari siapa orangnya, semua orang bisa menumpahkan idenya dalam bentuk karya seni. Hal ini tentunya patut mendapat apresiasi dari semua pihak, terkhusus bagi masyarakat pecinta seni,” ujar Inge Setiawati, Sekretaris Perusahaan BCA.

Di antara 365 stand yang ada, karakter lukisan Pakwi berhasil mencuri perhatian banyak orang. “Karya Pakwi sangat menarik. Pemilihan warna dan goresan-goresannya yang sering kali tidak mengikuti aturan-aturan yang ada justru membuat lukisannya begitu istimewa,” ujar Ade Anisiya, salah seorang pengunjung agenda rutin empat tahunan yang digelar oleh Fakultas Seni Rupa dan Design Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).