Produksi Automotif Naik, Pasar Pelumas ASEAN Diprediksi Menguat

Jakarta: Perusahaan konsultan global untuk strategi penjualan dan pemasaran Ipsos Business Consulting (IBC) memprediksi, pasar pelumas di ASEAN bakal tumbuh sebesar 4,7 persen selama lima tahun ke depan. Pertumbuhan tersebut merupakan dua kali lipat dari pertumbuhan global yang diperkirakan hanya tumbuh sebesar 2,6 persen.

IBC menilai, pertumbuhan ini akibat dari menguatnya produksi manufaktur dan otomotif di kawasan Asia Tenggara, sehingga mendorong tingginya permintaan pelumas. Dengan pertumbuhan pesat itu, total pasar pelumas pada 2019 mendatang diperkirakan bakal mencapai 3 miliar liter.

Country Manager IBC Thailand Sanpichit Songpaisan mengatakan, penjualan mobil baru pada tiga pasar utama ASEAN, yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia diperkirakan akan tumbuh sekitar 7-8 persen selama lima tahun ke depan. Pertumbuhan ini didorong kuat oleh perdagangan bebas ASEAN melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai berlaku pada akhir 2015 ini.

“Perdagangan intraregional yang bebas bea cukai akan mendorong pertumbuhan perdagangan otomotif di ASEAN secara signifikan,” ungkap Songpaisan dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu (25/3/2015).

Sementara itu, Country Manager IBC Indonesia Domy Halim memaparkan, saat ini rasio kepemilikan kendaraan terhadap jumlah populasi di Indonesia merupakan yang terendah di ASEAN, yakni sekitar 8 persen. Jika dibanding negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia cukup tertinggal jauh. Rasio Thailand sebesar 17 persen, sedangkan Malaysia mencapai 33 persen.

Meskipun begitu, ia meyakini, lonjakan kelas menengah di Indonesia bakal meningkat dua kali lipat, dari 74 juta pada 2014 menjadi 140 juta pada 2020 mendatang. Hal ini merupakan pendorong kuat bagi masyarakat Indonesia untuk memiliki kendaraan pribadi.

“Sepeda motor adalah moda transportasi utama bagi masyarakat Indonesia dengan perkiraan rasio populasi 8 orang per 1 kendaraan pada tahun 2014. Walaupun begitu, masuknya LCGC (Low Cost Green Car/mobil murah ramah lingkungan) dapat meyakinkan sebagian pengguna sepeda motor untuk menggunakan mobil LCGC,” yakin dia.

Menurut Domy, peralihan tersebut bakal mendorong pertumbuhan penggunaan pelumas, karena satu sepeda motor menggunakan rata-rata pelumas sebanyak 0,8 liter pelumas sedangkan LCGC menggunakan rata-rata 3 liter pelumas.

Terlebih, tambah dia, industri manufaktur di Indonesia bakal meningkat drastis. Pasalnya, Pemerintah Indonesia telah membidik pembangunan sektor manufaktur dengan peningkatan kontribusi Produk Domestik Bruto sebesar 23-40 persen hingga 2025.

“Sebagai contoh, untuk mendukung industri otomotif nasional, pemerintah akan meningkatkan persyaratan kandungan bahan lokal dari 75 persen menjadi 90 persen di tahun 2020. Hal ini menyebabkan industri suku cadang otomotif dan pelumas mengalami pertumbuhan kuat di masa mendatang,” papar dia.

“Hal ini jelas merupakan peluang investasi bagi industri pelumas. Namun, hal ini tentu akan membawa persaingan pasar pelumas menjadi semakin ketat, sehingga daya saing industri pelumas lokal menjadi semakin lebih baik dalam menghadapi perdagangan bebas nantinya,” pungkas Domy.

AHL

Sumber : metrotvnews.com