Berkat kegigihannya dalam mengukir wayang golek berbahan dasar kayu sengon, Wawan sukses raup omzet sebesar Rp 60 juta setiap bulannya. Pria asal Sumedang ini, sudah merintis usaha wayang golek ini sejak tahun 1987 silam dengan nama Jenggala Artshop.

“Wayang yang dijual berkisar dari harga Rp 75 ribu hingga Rp 400 ribu, yang disesuaikan dengan kualitasnya. Tiap bulannya, saya bisa mendapatkan omzet sebesar Rp 50 juta sampai 60 juta,” jelas Wawan, saat diwawancara dalam ajang 12th Indonesia Investment Week 2016 di JIExpo, Jakarta.

Bahan baku yang dipakai wawan untuk membuat wayang golek hasil karyanya adalah kayu sengon yang biasanya didapat dengan mudah di sekitar tempat tinggalnya di Pamulihan, Sumedang. “Saya pakai kayu sengon yang dibeli di Pamulihan,” tuturnya.

Wawan menyatakan bahwa wayang golek hasil produksinya itu saat ini sudah banyak dipasarkan di Eropa dan Asia. Selain itu, wayang golek buatannya juga dikirim ke beberapa daerah di Indonesia seperti Bali dan Yogyakarta.

“Wayang golek yang saya buat sebagian besarnya didistribusikan ke luar negeri seperti Prancis, Amerika Serikat, Belanda, Korea Selatan. Sedangkan di dalam negerinya, saya hanya mengirimkannya ke Yogyakarta dan Bali yang merupakan kawasan wisata,” papar wawan.

Usaha wayang golek yang dirintis Wawan ini terbagi menjadi belasan jenis. Akan tetapi, yang saat ini paling laku dipasaran adalah wayang golek yang memiliki karakter Cepot khas dari Jawa Barat.

”Saya juga buat wayang pulpen, wayang pajangan, wayang gantungan untuk mobil, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling banyak diminati orang adalah Wayang cepot yang yang dibanderol senilai Rp 100 ribu,” tutup Wawan.