Liga Champions – Sebelum dini hari tadi, tentu semua pihak akan menjagokan Barcelona bisa menaklukan atau paling tidak bermain imbang dengan Paris Saint Germain. Dalam dua pertemuan terakhir kedua kubu di babak 8 besar Champions League, El Barca selalu sukses mengeliminasi PSG. Ditambah, PSG belum pernah sekalipun mencatatkan clean sheet ketika melawan Barcelona. Hal ini sontak membuat Barcelona lebih dijagokan.

Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Ketika hakim lapangan meniupkan peluit tanda selesainya laga, publik tuan rumah pun bersuka cita. Empat gol sukses dikantongi oleh Cavani dan kawan-kawan ke jala Marc-Andre Ter Stegen. Yang lebih baiknya lagi tentu adalah skuat yang dikomandoi oleh Luis Enrique tidak bisa membalas satu gol pun tersebut.

Possesion Football Tak Lagi Jadi Tumpuan Di Kancah Eropa 1


Tumbang dengan skor 4-0, ini merupakan salah satu kekalahan terbesar yang dialami Enrique sebagai juru taktik tim Catalan. Bahkan, itu juga merupakan kekalahan terbesar Blaugrana dalam sejumlah musim terkahir.

Di Bawah rezim Enrique, Blaugrana memang sedikit merubah gaya permainan mereka. Walaupun demikian, possession football merupakan jati diri utama tim Catalan tersebut belum sepenuhnya sirna, walau kini tak lagi menjadi gaya utama. Kekalahan ini pun seolah menjadi bukti bahwa permainan yang bertumpu pada penguasaan bola sedikit demi sedikit mulai kehilangan taringnya.

Sedangkan di Premier League. Arsenal hingga kini kerepotan untuk berkompetisi secara konsisten. Tanpa mengurangi rasa hormat pada torehan Arsene Wenger sejauh ini, taktik yang ia gunakan seakan sudah tidak lagi cocok dengan perkembangan Liga Primer Inggris yang perlahan kembali ke dasarnya, yaitu “kick and rush”. Petisi untuk segera menyingkirkan Wenger pun semakin keras tiap musimnya. Namun, entah apa alasannya, Wenger tetap menjadi juru taktik di klub yang bermarkas di Emirates hingga kini.

Kemudian, di musim ini pun salah satu Ahli Possession Football ikut meramaikan Liga Primer Inggris. Pep Guardiola bergabung untuk menggantikan Manuel Pellegrini di Manchester City. Sempat membuat The Citizens tak terkalahkan di awal musim, City seolah kehabisan energi dan malah terseok-seok. Bahkan, sempat terdengar isu jika Pep akan segera didepak dari Etihad. Walaupun perlahan City mampu bangun kembali, hal ini seolah semakin memperkuat alasan bahwa pola permainan indah kini sudah mulai kurang efektif.

Dan terjadilah laga dini hari tadi. Dengan kekuatan lini serang yang tidak perlu dipertanyakan lagi serta lini tengah yang berkualitas, Blaugrana semestinya mampu dengan mudah mengobrak-abrik gawang Le Parisien. Dengan keunggulan ball possesion yang menjadi ciri khas Blaugrana di hampir tiap penampilannya, armada yang dikomandoi Enrique justru gagal meneror gawang PSG lebih banyak.

Total mereka hanya melontarkan lima tembakan dan hanya satu yang mengarah ke gawang. Dilain pihak, Le Parisien sukses melontarkan 12 tembakan dan sembilan mengarah ke gawang serta empat berbuah gol. Tentu ini menjadi bukti bahwa PSG sukses membuat Blaugrana hanya bermain dengan penguasaan bola.

Pada gol kedua yang disarangkan oleh anak asuh Emery, formasi serangan balik pun sukses mereka susun. Merampas bola di lini tengah, para punggawa Le Parisien dengan gigih mengisi posisi utama mereka. Julian Draxler yang menjadi destinasi akhir serangan pun sukses menunaikan tugasnya dengan baik. Kecuali pada gol pertama yang merupakan bola mati, faktor fisik pun cukup ditekankan. Pada gol ketiga, kemampuan Matuidi sukses menghadang dua pemain Blaugrana sementara Layvin Kurzawa berlari menembus pertahanan. Begitu pula solo run Thomas Meunier yang gagal dijegal oleh satu pun pemain Barcelona.

Enrique pun mengatakan bahwa mereka masih memiliki satu peluang lagi, meskipun akan sangat sulit. Mengembalikan defisit empat gol di Liga Champions memang hal yang cukup mustahil. Berharap akan keajaiban. Itulah yang mungkin bisa dilakukan oleh Blaugrana saat ini. Satu gol saja diciptakan PSG di Camp Nou, maka selesai lah sudah. Kegagalan Barcelona itu pun seolah menjadi bukti bahwa masa possession football kini mulai mendekati akhir.