Serie A – Perlahan tapi pasti, Internazionale Milan kembali sanggup menampilkan kredibilitas mereka sebagai salah satu kesebelasan raksasa di Italia. Setelah di awal musim sempat terpincang-pincang dibawah rezim Frank De Boer, hadirnya Stefano Pioli sebagai suksesor juru taktik asal Belanda itu pun berhasil merombak La Beneamata. Hasilnya, mereka kini mulai mendaki ke papan atas dan bersaing untuk mendapatkan satu tiket di zona Eropa.

Berdasarkan peringkat, kehadiran Pioli membuat Nerazzurri naik delapan peringkat. Sempat bertengger di peringkat 12, kini mereka menghuni peringkat keempat. Bahkan, mereka sempat membukukan tujuh kemenangan berturut-turut di pentas Serie A dari pertengahan Desember hingga akhir Januari. Dua kekalahan di liga yang sempat dialami Inter dibawah Pioli ini pun terjadi oleh kesebelasan yang peringkatnya berada di atas mereka, Napoli dan Juventus.


Oleh awak media Italia, Pioli dijuluki sebagai ‘normaliser, yang berhasil memulihkan La Beneamata pada jati dirinya sebagai raksasa Italia. Penetapan Pioli sebagai juru taktik Inter memang mengindikasikan bahwa pejabat klub membutuhkan seseorang yang memiliki pengalaman dengan Serie A setelah kepergian Roberto Mancini pada Agustus silam. Pasca kegagalan eksperimen De Boer, mereka pun mempertimbangkan untuk ‘bermain aman’ dengan menobatkan Pioli sebagai juru taktik Internazionale.

Awalnya, penetapan Pioli sendiri sempat memunculkan keraguan. Lantaran, sebelum ia dipilih, Nerazzurri sempat membidik nama Marcelino, yang pada musim sebelumnya sempat mengantarkan Villarreal hingga semifinal Europa League. Namun, atas ulasan dari direktur olahraga Piero Ausilio, Pioli akhirnya ditetapkan untuk menangani La Beneamata. Hasilnya, Suning mungkin tidak menyesal karena tidak meminang Marcelino.

Kini susah rasanya membayangkan Nerazzurri tanpa Pioli. Ia berhasil memulihkan kepercayaan diri kesebelasan Inter yang sempat melemah ketika dikomandoi oleh De Boer. Sosok seperti Marcelo Brozovic dan Geoffrey Kondogbia yang sempat terasing dari skuat inti pun perlahan ia satukan kembali ke tim. Dari segi strategi, pemilihan 4-2-3-1 oleh Pioli memang membuahkan hasil lebih baik dari sejumlah eksperimen formasi yang diterapkan oleh De Boer.

Setelah jendela transfer Januari lalu pun Inter kini memiliki kapasitas skuat yang bisa dibilang cukup membuat cemburu rival mereka. Walau hanya mendaratkan Roberto Gagliardini, Pioli seolah memiliki pilihan tak terbatas pada setiap sektor. Di sektor tengah, sebagai contoh, absennya Felipe Melo pun tidak meninggalkan liang besar karena masih ada Gagliardini, Brozovic, Kondogbia, Ever Banega, hingga Joao Mario.

Dengan semakin berbahayanya Nerazzurri, sinyal teror itu seharusnya sudah mulai tersebar ke seantero Italia. Inter pun tidak bisa lagi dipandang sebagai raksasa yang sedang terlelap saat ini. Raksasa tersebut kini sudah bangkit dan siap untuk kembali menginjak siapapun yang ada di jalan mereka. Dan, kontribusi Pioli membangunkan kembali sang raksasa pun tidak bisa dipandang sebelah mata.