Perkembangan apartemen yang cukup pesat diberbagai penjuru kota besar, tengah menjadikan rumah bukanlah satu-satunya pilihan tempat tinggal. Hunian vertikal pada saat ini makin banyak diminati keluarga muda.

Pengamat perkembangan hunian vertikal dari Colliers Internasional Indonesia Ferry Salanto, mengutarakan, bahwa pertumbuhan hunian vertical terjadi tak hanya di Jakarta, juga terjadi di Bodetabek. Itu dikarenakan orang yang kerja di Jakarta memilih tinggal di luar Jakarta.

Disaat sekarang ini tentu perihal ini akan membawa orientasi pada transit oriented development (TOD). Orang lebih milih suatu kawasan tuk dihuni berdasarkan akses yang baik dengan infrastruktur transportasi yang memadai. Sebelum memilih tinggal di hunian vertical, sebaiknya pastikan beberapa hal ini.

– Suatu system keamanan yang terintegrasi dengan kepolisian setempat di mana Anda tinggal. Tersedianya perangkat yang mendukung system keamanan 24 jam. Semisal kamera CCTV.

– Sarana tuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Memiliki smoke detector, sprinkler , dan hidrant . Kalau tidak terlihat, tanyakan kepada pihak pengelola. Tersedia exhaust fan untuk menyedot udara atau asap dari dalam keluar bangunan.

– Genset darurat. Biasa digunakan tuk mengatur pencahayaan serta pengudaraan di lorong, memfungsikan lift dan menyokong benda bersama. Kerja genset darurat tidak boleh di-on dan off secara manual, harus otomatis. Ketika listrik PLN mati, genset otomatis menyala.

– Lift darurat yang dapat dioperasikan oleh petugas pemadam disaat terjadi kebakaran besar. Termasuk ketersediaan tangga darurat yang memadai, dengan minimal lebar 120 cm.

– Tersedia cadangan air tuk pemadaman selama 30 sampai 60 menit, waktu yang tengah diperkirakan sebelum petugas pemadam datang.