Kemajuan tuk industri komponen lokal belum bisa dinyatakan mapan. Malahan dengan berbagai persolan yang dihadapi, membuat mereka semakin terjepit, bahkan ada juga yang gulung tikar.

Hadi Surjadipradja, Vice President Gabungan Industri Alat-Alat Mobil Motor (GIAMM) mengutarakan bahwa, dari anggotanya, ada dua pengusaha komponen dan aksesori yang sudah menyerah. Sementara sisanya masih bertahan walaupun dalam kondisi memprihatinkan.

“Enggak cuma terpojok, malahan ada yang sudah mati. Dari awak kami ada 2 yang sudah menyerah,” imbuh Hadi, pada hari Selasa kemarin.

Hadi menambahkan, penyebab pertama yang menyulitkan kami diyakni bahan baku. Biaya masuk yang dikeluarkan pengusaha komponen lumayan besar, karena tidak ada yang mengimpor dari ASEAN (Rp 0).

“Ini yang membuat kami jadi kesulitan. Ambisi kami, regulasi pemerintah punyai harmonisasi yang benar, barang jadi yang diimpor harusnya punya pajak lebih mahal, dibanding bahan baku yang akan digunakan untuk merakit di dalam mobil. Namun kalau sekarang terbalik-balik aturanya, makanya pengusaha lokal akan habis (bangkrut),” imbuh Hadi.

Lalu, lanjut Hadi, bayaran buruh yang dinaikkan. “Pemerintah daerah agar menaikkan bayaran pekerja, sementara produktivitasnya kecil. Semakin mencekik kami,” tutur Hadi.

Hadi melanjutkan, yang kemudian pula memastikan yaitu volume penjualan kendaraan. “Jadi mobil dan sepeda motor harus bisa laku. Kalau tidak ada yang terjual sama saja bohong,” ujar Hadi.