yandex
Gaya HidupKesehatan

Penyebab Lain Tubuh Bayi Seperti Terkejut disaat Tertidur

Duakali – Ketika bayi tidur, pernahkah Ayah dan Bunda mengamati salah satu bagian tubuhnya seperti kaget? Nah, hal itu seringkali diyakini sebagai reaksi anak terhadap mimpi yang dialami. Tapinya, pada kenyataan tersebut belum tentu seperti itu.

Profesor di Department of Psychological and Brain Sciences, University of Iowa, Mark Blumberg dan ilmuwan Greta Sokoloff memastikan bahwa kedutan seperti kaget yang dialami selama fase Rapid Eye Movement (REM) terpaut dengan tahap perkembangan sensorimotor anak. Ketika bagian tubuh berkedut, Blumberg menyebut sirkuit otak untuk perkembangan diaktifkan dan mengajarkan bayi tentang anggota tubuh mereka dan apa yang bisa dilakukan dengan anggota tubuh mitu.

“Kami percaya mengetahui pertumbuhan awal motorik dan sensorimotor adalah kunci memahami perkembangan anak yang khas. Kemudian, bisa memberi petunjuk untuk memahami gangguan perkembangan saraf seperti autisme dan skizofrenia. Meski sering diabaikan, ada masalah besar pada sistem sensorimotor pada gangguan seperti itu,” jelas Blumberg, diberitakan dari uiowa.edu, pada hari Kamis kemarin.

Setelah memakai bayi tikus yang kegiatan otaknya diamati dan dipautkan dengan fungsi berkedut, kini Blumberg dan tim sudah merekrut bayi usia 2 minggu sampai 18 bulan untuk studinya. Orang tua si bayi bersedia membawa anaknya sebulan sekali ke laboratorium untuk divideokan saat tidur. Dengan bantuan dana hibah dari Bill and Melinda Gates Foundation, untuk sekali kunjungan, orang tua mendapat dana kompensasi sekitar Rp 390 ribu.

Saat ini pun, mulai banyak orang tua yang diboyong untuk mengisi kuisioner online yang berisi berita perilaku anak saat tidur dan terjaga. Blumberg mengatakan, ia dan tim melihat hubungan menarik antara kedutan yang dialami bayi saat tidur dengan keterampilan perkembangannya. Misalnya saja, ada hubungan antara kedutan di area leher saat tidur dengan kemampuan bayi menyangga kepalanya saat terjaga.

“Selepas bayi bisa menahan kepala saat mereka terjaga, proporsi kaget di area leher dan area lainnya menurun. Hubungan seperti ini membuat kami bisa menggunakan kedutan untuk memprediksi terjadinya keterampilan motorik dan mungkin kemudian, mendeteksi masalah perkembangan yang dialami anak,” pungkas Blumberg.

Dengan meringkas banyak responden, Blumberg pingin akan terkumpul data dalam jumlah besar yang lalu dikelola sehingga datanya terpercaya. “Walau ini masih awal, tapinya mendapat ribuan responden di seluruh dunia bisa membantu studi ini untuk berhasil mendeteksi pola perkembangan bayi, dilihat dari kedutan yang dialami saat tidur,” imbuh Blumberg.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button