yandex
Bisnis

Peluang Bisnis Miniatur ‘Hanycraft’ Clay Yang Menjanjikan

Kreatifitas yang tinggi memang dapat dimanfaatkan sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Salah satunya seperti yang dilakukan Yeny yang kini sukses menggeluti bisnis miniatur unik dengan mengusung nama Hanycraft.

Sebagai produk kerajinan handmade, miniatur ini dibanderol dengan harga mulai dari Rp 5 ribu hingga jutaan rupiah. Beragamnya harga jual ini tergantung dari tingkat kesulitan, detail, dan besarannya. Yeny sudah mengenal kerajinan ini sejak tahun 2003 lalu.

Awalnya, kerajinan ini ditekuninya hanya sebatas hobi saja, namun ternyata banyak kerabat dan saudara-saudaranya yang tertarik untuk memilikinya. Sejak saat itulah Yeny mulai menerima pesanan dalam jumlah yang masih sedikit dan satu tahun setelahnya, ia mulai mencoba untuk merintis bisnis miniatur dari bahan clay dengan lebih serius.

Produk miniatur yang dihasilkan Yeny cukup beragam, ada yang berbentuk makanan, seperti sushi, nasi tumpeng, set breakfast, kue tart, roti, steak, buah-buahan, es krim, dan lain sebagainya. Ada pula aneka bunga, seperti anggrek, mawar, lotus, ponne, tulip, gerbera, teratai, lily, bunga matahari, dan masih banyak lagi. Selain itu, Yeny juga membuat miniatur binatang, yakni pigsty, kelinci, ikan koi, gajah, ayam, dan lain sebagainya.

Hingga saat ini, Yeny terus menciptakan beragam kreasi terbarunya untuk mengembangkan bisnis miniatur tersebut. Dalam menjalani usahanya ini, Yeny mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantunya memenuhi pesanan dari pelanggan.

Selain menjual kerajinan clay dan jenis kerajinan keramik mini, Yeny juga membuka kursus pembuatan miniatur dari bahan clay ini di rumahnya sendiri, yakni di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Kursus tersebut dibagi dalam dua kelas, yakni kelas pembuatan bunga dan pembuatan makanan yang masing-masingnya berlangsung selama 5 jam.

bisnis-miniatur

Apabila Yeny mendapatkan pesanan yang jumlahnya cukup banyak, ia sering memberikan pesanan tersebut kepada peserta dari kursusnya dengan menggunakan sistem bagi hasil. “Saya juga melakukan kerja sama dengan pengrajin dari luar, utamanya untuk miniatur keramik kecil, seperti piring, cangkir, binatang, mangkok, dan tea set,” tuturnya.

Bisnis miniatur yang awalnya bermodalkan Rp 20 juta itu membuahkan perkembangan yang sangat menjanjikan. Meskipun diakui Yeny ia tidak terluput dari yang namanya tantangan dalam berbisnis, namun Yeny tetap menjalaninya dengan optimis.

Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah karena bahan clay didapatinya melalui impor, maka harga belinya masih dipengaruhi oleh nilai kurs rupiahnya. Menurut Yeny, miniatur yang dihasilkan dari clay import hasilnya akan lebih maksimal dan memuaskan jika dibandingkan dengan clay lokal.

Kini, Yeny sudah mendapatkan pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti di area Jawa, Kalimantan, dan juga Sumatera. Bahkan, Yeny pun pernah menerima pemesanan dari Australia dan Singapura. “Kapasitas produksi yang dihasilkan dari bisnis miniatur ini tetap, tapinya rata-ratanya bisa mencapai ratusan produk dengan ukuran dan tingkat kerumitan yang berbeda-beda,” beber Yeny.

Dalam menjalani bisnis miniatur clay ini, Yeny bersama dengan suaminya menerapkan sistem penjualan secara langsung dan sistem reseller. Penjualan secara langsung ini biasanya datang dari pelanggan sendiri. Untuk menunjang pemesanannya, Yeny menyediakan situs penjualan, lengkap dengan daftar harga dan detail produknya. Sedangkan untuk pemesanannya dapat dilakukan dengan menggunakan email, sms, maupun telepon langsung.

Sementara untuk sistem reseller, Yeny menawarkan sistem kerja sama ini bagi mereka yang tertarik untuk menjalani bisnis miniatur. Menurut Yeny, sistem reseller ini memberikan peluang usaha yang menjanjikan dan memberikan kontribusi yang besar dalam pengembangan usaha miniatur ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button