Peter Thaveepolcharoen, seorang pemuda di Thailand sukses merintis bisnis donat dengan mengusung merek Daddy Dough. Usaha ini didirikannya sejak 10 tahun yang lalu hanya dengan bermodalkan 5 juta bath.

Kini, Daddy Dough miliknya telah berdiri sebanyak 30 outlet dan mempunyai 12 franchise yang tersebar di seluruh kawasann Thailand dengan mempekerjakan lebih dari 150 orang karyawan. Setiap harinya, bisnis donat yang dirintis Peter memproduksi sekitar 300 donat.

Sebelum terjun ke dunia bisnis, Peter awalnya bekerja di sebuah perusahaan software dan IT sebagai marketing. Berkat adanya dukungan dari sang ayah, Peter pun memutuskan untuk resign dari tempat ia bekerja dan mulai merintis usaha donat dengan kualitas terbaik.

“Dulu, saya adalah seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan software IT. Ayah saya mengatakan kepada saya kalau bisnis kue donat dapat berkembang pesat di Thailand. Saya pun memutuskan untuk resign dan mulai merintis usaha ini. Saya mulai merintis usaha ini pada tahun 2006,” ujar Peter ketika diwawancara dalam acara 14th Franchise & License Expo Indonesia di JCC Senayan, Jakarta.

Sebelumnya, hanya ada dua merek donat yang digemari di Thailand, yaitu Dunkin’ Donuts dan Mr. Doughnut. Hal ini begitu memotivasi Peter untuk mulai merintis usahanya itu. Sejak awal, Peter sudah punya target untuk mendirikan outlet lebih banyak agar dapat bersaing dengan kedua merek donat tersebut.

donat-daddy-dough

Peter mengatakan bahwa kunci keberhasilan dari bisnis donat yang dirintisnya adalah kualitas dari resep donat buatannya. Memiliki tekstur donat yang lembut dan toppingnya yang berasal dari coklat Belgia adalah salah satu andalan dari donat buatannya. Tak hanya itu, donat yang dibuatnya juga tidak menggunakan lemak trans yang umumnya digunakan oleh sejumlah perusahaan makanan, sehingga menajdi donat yang nikmat dan terjamin mutunya untuk kesehatan.

Peter mengaku jika awalnya ia sempat mengalami kesulitan untuk melakukan ekspansi. Tak hanya itu, sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang bisa dipercaya dan diandalkan terkadang menjadi hambatan dari bisnis donat yang dirintisnya.

Kini, Daddy Dough sudah memproduksi 40 jenis donat dari sebelumnya yang hanya 15 varian. Saat ini Daddy Dough sedang mengembangkan sebuah inovasi dengan menjual produk makanan lainnya yang lebih bervariasi seperti croisant dan juga pie.

Peter menyebutkan jika saat ini penjualan donat Daddy Dough sudah mengalami peningkatan yang signifikan, yakni dari 10 sampai 15 kali lipat dari awal dirintisnya usaha ini sampai sekarang. “Awalnya, kami menjual donat dengan harga 15 bath. Namun sekarang sudah naik jadi 28 bath. Harganya saat ini hampir dua kali lipat dan sekarang kami telah memiliki 30 gerai,” beber Peter.

“Di awal perintisan usaha ini, kami hanya mampu menjual 300 donat setiap harinya. Namun saat ini sudah 15000 donat per harinya. Dengan adanya peningkatan yang sangat signifikan, tentunya bisnis donat ini punya prospek usaha yang menjanjikan dan saya yakin kalau bisnis ini juga punya peluang yang bagus jika ditekuni di Indonesia,” ujarnya.

Perjalanan Daddy Dough sendiri awalnya sudah ada sejak 35 tahu yang lalu. Kala itu, Somchai Thaveepholcharoen, ayah Peter membuka outlet donat di Amerika dan sampai akhirnya kembali ke Thailand, lalu memutuskan untuk merintis bisnis restoran untuk ditekuni.

Lantaran melihat peluang yang bagus dari bisnis donat, sang ayah pun mewariskan resep donat yang saat itu ia miliki di Amerika kepada anak-anaknya. Hal inilah yang mendasari slogan dari Daddy Dough sendiri yakni, the great taste to share.