PBB Menentang Hukuman Mati yang Diterapkan Indonesia untuk Kasus Narkoba
Ban Ki-Moon / Photo by Flickr.com

DUAKALI.COM – Eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkoba beberapa bulan lalu adalah pertama kali dilakukan di Indonesia sejak kepemimpinan Presiden Jokowi, karena hukum yang berubah ini membuat PPB angkat bicara untuk menghentikan hukuman mati di Indonesia bagaimanapun kondisinya.

Seperti dilansir dari beritasatu (15/2/2015), pernyataan himbauan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Ban Ki-moon kepada Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. Dia menghimbau agar Indonesia tidak melakukan eksekusi mati terhadap tahanan kasus kejahatan narkoba, termasuk warga Australia, Brazil, Prancis, Ghana, Indonesia, Nigeria dan Filipina.

Indonesia menerapkan hukuman yang keras dalam kasus perdagangan narkoba. Pelaksanaan eksekusi mati dilakukan kembali pada 2013, setelah sempat jeda selama lima tahun. Lima warga negara asing, dari enam terpidana mati, telah dieksekusi bulan lalu. Eksekusi itu merupakan yang pertama sejak Presiden Joko Widodo memerintah, Oktober lalu.

Juru bicara PBB Stpehane Dujarric mengatakan, Ban telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi, Kamis, “untuk mengungkapkan keprihatinannya atas penerapan terbaru hukuman mati di Indonesia.”

“PBB menentang hukuman mati dalam segala kondisi,” ujar Dujarric dalam pernyataannya, Jumat. “Sekjen meminta pemerintah Indonesia tidak melakukan eksekusi hukuman mati terhadap tahanan kasus narkoba yang tersisa.”

Awal bulan ini, Jaksa Agung Indonesia H.M. Prasetyo mengatakan, dua warga Australia– Myuran Sukumaran (33) dan Andrew Chan (31)– ada di antara delapan tahanan yang akan dieksekusi setelah Widodo menolak permohonan grasi mereka, Januari.

Warga negara Brasil, Malawi, Belanda, Nigeria, Vietnam, telah dieksekusi oleh regu tembak, Januari.

Kasus dua warga Australia itu mengancam ketegangan hubungan yang sudah rapuh antara Australia dan Indonesia. Kedua orang tersebut merupakan anggota kelompok Bali Nine, yang ditangkap di bandara Denpasar, Bali, pada 2005, karena berusaha menyelundupkan 8 kg heroin.

Australia sedang mengejar kesepakatan terakhir dengan Indonesia untuk menyelamatkan dua warganya.

Brasil dan Belanda memanggil duta besar mereka di Indonesia dan Nigeria memanggil duta besa Indonesia di Abuja, setelah pelaksanaan eksekusi bulan lalu.