Di Australia, harga rokok melambung lantaran pajaknya yang terus meningkat. Sejumlah pakar kesehatan di negara ini mengharapkan kenaikan pajak rokok ini akan mampu mengurangi jumlah perokok, sehingga negara yang mendapat sebutan negeri kangguru ini segera terbebas dari asap rokok yang berbaya bagi kesehatan.

Pada beberapa dekade terakhir, kuantitas perokok di Australia mengalami penurunan yang cukup signifikan. Di awal tahun 1990, jumlah penduduk yang merokok sebesar 25 persen dan saat ini berkurang menajdi 13 persen.

Penurunan jumlah perokok ini terjadi berkat kian meningkatnya pajak yang dibebankan untuk tembakau. Tak hanya itu, adanya larangan merokok di sejumlah tempat umum dan kemasan rokok yang diharuskan polos pun ikut serta menjadi faktor pendukung menurunnya jumlah perokok di Australia.

Baru-baru ini, pemerintah pusat Australia kembali menaikan tarif pajak dari tembakau. Kenaikan pajak rokok tersebut mencapai 12,5 persen untuk 4 tahun mendatang. Hal ini mengakibatkan harga satu bungkus rokok menjadi 40 dolar atau setara dengan Rp 400.000.

“Kondisi ini mengharuskan saya untuk berhenti merokok. Karena saya tidak mampu untuk membeli rokok dengan harga yang setinggi itu. Dengan harga tersebut, nantinya saya akan merogoh kantong 400 dolar hanya untuk merokok saja,” paparnya.
Berbanding terbalik dengan Joanne, yang sudah menjadi seorang perokok selama 40 tahun. Ia mengatakan bahwa melambungnya harga rokok tak akan menghentikan dirinya untuk merokok.