Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengutarakan bahwa saat ini pemerintah Indonesia tengah menunggu respons China terkait permintaan untuk Negeri Tirai Bambu tersebut mengembalikan kapal nelayan mereka yang telah mencuri ikan di laut Indonesia.

“Disaat sekarang ini kita masih menunggu jawaban, kita akan tetap berkirim surat resmi pun lewat Menlu,” tuturnya di kantor Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Mengenai hal tuk perkembangan 8 Anak Buah Kapal (ABK) yang ditahan aparat, lanjut Susi, sekarang ini proses pemeriksaan masih berjalan. Biarpun demikian, dirinya menegaskan yang menjalankan proses secara hukum hanyalah kapten kapal, master enginer dan divisi master.

“Tapinya jikalau untuk menyelesaikan ABK kapal, biasanya di dalam sistem hukum kita hanya bisa 3, cuma kapten, master engineer dan divisi master, yang lain harus di deportasi pulang,” jelasnya.

Akan tetapi, ia juga enggak bisa memastikan berapa lama jangka waktu yang dibutuhkan buat mendapati respons itu. “Berapa lama China merespons kita itu belum tahu,” tuntasnya.

Kementerian Perikanan dan Kelautan tengah menjalani penangkapan 8 ABK dari kapal China KM Kway Fey 10078 yang mencuri ikan (illegal fishing) pada kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Tapinya dalam operasi penangkapan itu, Kapal Pengawas Hiu 11 sempat dihalang-halangi kapal Penjaga Pantai China. Kini KM Kway Fey 10078 pun sudah dibawa ke China. Permasalahan ini kian meruncing, ketika China meminta delapan ABK dikembalikan dan mereka pun mengklaim perairan Natuna masih jadi daerah tangkap ikan China.