Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengucapkan, salah satu manfaat adanya layanan transportasi berbasis aplikasi adalah data yang lengkap yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah, atau istilahnya “data mining”.

Selepas adanya pelayanan transportasi berbasis aplikasi yang telah berjalan di Indonesia, yakni GoJek, Uber, dan Grab. Dua nama terakhir sedang disorot karena mendapat penolakan dari industri taksi nasional.

Kita harus smart, jikalau nantinya aplikasi ini datanya terbilang lengkap, pemerintah daerah bisa minta data ini data itu, komplit,” ujar Rudiantara, Pada kamis yang lalu.

Menurut Rudiantara, bahwa data ini dapat dipakai sebagai dasar tuk melancarkan berbagai kebijakan pemerintah. “Intinya meningkatkan pelayanan masyarakat, Ini kan yang namanya data mining,” kata pria yang akrab disapa Chief RA itu.

Cara kerjanya sama dengan berbagi data jarak penyedian aplikasi dengan pemerintah ini yang dikatakan Chief RA telah dilakukan oleh pemerintahan kota Moskow, Rusia dengan Uber.

Uber di Rusia pada Selasa yang lalu memang telah membenerkan bersepakat dengan pemerintah kota Moskow. Mereka boleh beroperasi di kota tersebut salah satunya dengan syarat data perjalanan yang dimiliki Uber diserahkan ke pemerintah.

Tidak tuk melihat perjalanan penumpang Uber, melainkan menjadi data agregasi yang dapat membantu pihak berwajib menentukan apa peranan Uber di bidang lalu-lintas bagi kota Moskow.

Di Indonesia sendiri, Kemenkominfo dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah masih membahas pengajuan badan hukum koperasi oleh pengusaha rental transportasi berbasis aplikasi online.” persetujuannya sedang diproses dengan Kementerian Koperasi,” kata Rudiantara.