Hampir sebagian besar orang suka dengan makanan yang namanya donat. Apabila menilik lingkungan sekitar kita, sudah semakin menjamur pebisnis yang menggeluti bisnis donat ini. Serupa dengan bisnis lainnya, merintis usaha donat juga membutuhkan kreatifitas dan inovasi agar bisa berkembang dengan pesat dan mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan yang ada saat ini.

Peluang bisnis kue donat yang semakin menjanjikan ini dimanfaatkan oleh dua orang anak muda, yakni Faizal Brahmantyo dan Salvaredo Wijaya Dewa yang sukses menggeluti usaha donatnya dengan mengusung brand Dough.Nut. Keduanya mengaku jika demi mencapai sebuah kesuksesan di bidang ini dibutuhkan inovasi serta kreativitas, teristimewa untuk mereka yang merintis bisnis kuliner.

Salah satu inovasi yang diterapkan keduanya pada bisnis donutnya adalah ukuran donatnya yang lebih besar dari donat pada umumnya dan kolaborasi campuran dari topping donatnya sendiri. Inilah yang menjadikan Dough.Nut semakin berkembang dan disukai oleh konsumennya.

Salvaredo Wijaya Dewa yang mempunyai latar belakang dalam bidang perhotelan mengaku jika dirinya sudah tak merasa asing lagi di dunia kuliner. Memang selepas ia lulus dari akademi perhotelan tersebut, Salvaredo telah memiliki rencana untuk menggeluti bisnis kuliner. Menjalin kerja sama dengan sahabatnya, Faizal Brahmantyo, akhirnya bisnis ini pun dijalankan.

Di awal usahanya itu, Salvaredo dan Faizal memutuskan untuk membuat donat yang ukurannya besar. Konsep bisnis ini dibuatnya lantaran mereka ingin memberikan sensasi kenikmatan mengudap donat yang tak hanya dari varian rasanya yang beragam, melainkan juga dari kepuasan ukurannya.

Dari namanya sendiri, Dough.Nut memang tergolong sangat unik dan menarik. Salvaredo mengaku, penggunaan nama ini berasal dari pemisahan penyebutan bahasa inggris dari donat itu sendiri, yang terpecah menjadi dua kata yakni Dough yang artinya adonan, dan Nut artinya gila. Dengan demikian, terciptalah donat berukuran jumbo, yang besarnya mencapai telapak tangan.

“Kami membuat produk donat dengan ukuran yang besar, yaitu menyerupai ukuran telapak tangan. Untuk varian rasanya, kami menawarkan pilihan rasa yang berbeda dari usaha sejenis, yang mana rasanya belum begitu dikenal oleh kebanyakan orang,” tutur Salvaredo.

Tidak hanya punya nama yang unik, inovasi menarik lainnya yang diciptakan oleh kedua pemuda ini adalah pada sistem penjualannya. Sampai saat ini, penjualan Dough.Nut sendiri masih mengusung sistem online dari semua produk yang dibuatnya. Melalui media online, pelanggan bisa memesannya dulu, kemudian sehari setelahnya donat yang dipesan akan dibuatkan.

Dengan mengusung sistem penjualan seperti itu, donat yang jatuh ke tangan pembelinya tentu akan terjamin kualitasnya karena waktu pembuatannya dengan pengiriman tidak berjarak lama. Tak hanya itu dengan semakin berkembangnya teknologi saat ini, pemasaran yang dilakukan secara online tentunya cukup mudah dilakukan serta mampu menjangkau masyarakat luas.

Meski demikian, bisnis donat yang mulai digeluti pada pertengahan 2015 itu pun melakukan penjualan melalui offline. “Kami pun tidak menutup kemungkinan untuk membuka toko Dough.Nut. Hal ini dilakukan untuk mempermudah konsumen untuk menikmati produk donat yang kami jual,” tuturnya.

Dalam menggeluti bisnis donat ini, Faizal dan Salvaredo tak terluput dari hambatan dan masalah. Utamanya adalah dalam hal pemesanan dan kondisi perekonomian Indonesia yang nyatanya miliki pengaruh yang cukup besar. Meski demikian, keduanya menyikapi hal tersebut dengan terus menciptakan serta mengembangan inovasi baru agar usahanya itu tidak mengalami kemerosotan.

Setelah 1 tahun bisnis donat ini berjalan, tepatnya pada pertengahan 2016, Dough.Nut sudah mampu menjangkau beberapa kawasan di Indonesia, seperti Bekasi, Tanggerang, Jakarta, dan beberapa kawasan di sekitarnya. Dengan mempekerjakan 5 orang karyawan untuk membantu produksinya, kini Dough.Nut sudah mampu meraup omzet yang besarnya mencapai Rp 12 juta setiap bulannya.