Jakarta: Makanan cepat saji atau fast food identik dengan makanan yang memicu berbagai masalah kesehatan. Namun, studi yang dilakukan University of Montana berkata sebaliknya.

Dalam penelitiannya, makanan cepat saji dikatakan bermanfaat bagi kesehatan, asalkan dikonsumsi pada waktu yang tepat, yakni usai berolahraga.

“Makanan cepat saji mampu meningkatkan glikogen, zat pada otot yang berfungsi sebagai bahan bakar penghasil energi. Untuk meningkatkan glikogen, kita tak harus makan makanan bernutrisi khusus,” ujar peneliti seperti dilansir Daily Mail, Senin (6/4/2015).

Penelitian ini mengambil sampel 11 atlet. Sebelumnya, mereka telah diminta untuk berpuasa selama 12 jam.

Setelah menjalani puasa, 6 orang diberi kue mangkuk, cokelat serta jus jeruk sebagai makanan pembuka. Dua jam kemudian, mereka disuruh memakan kentang goreng, burger dan minuman bersoda.

Sementara itu, 5 atlet sisanya diminta memakan pemulih energi sebagai makanan pembuka. Kemudian mereka disuruh makan makanan khusus atlet yang lebih sehat.

Dua jam setelah makan, semua peserta diminta berlari sejauh 20 kilometer dan melakukan treadmill secepat mereka bisa.

Setelahnya melakukan semua itu, para peneliti mengambil sampel darah dan keringat mereka. Mereka pun disuruh melakukan pertukaran program makanan seminggu setelahnya.

Tes kembali dilakukan. Hasilnya, atlet yang mengonsumsi makanan cepat saji mempunyai kadar glikogen tinggi. Artinya, mereka memiliki lebih banyak energi.

Catatan positif lainnya, tak ada penambahan kadar insulin, glukosa, atau kolestrol pada atlet yang mengonsumsi makanan cepat saji.

Meski hasilnya positif, peneliti mengimbau bahwa penelitian ini hanya berlaku untuk jangka pendek. Para peneliti pun tak menyarankan untuk mengonsumsi makanan cepat saji dalam waktu yang panjang sebagai penghasil energi usai berolahraga.

Penelitian ini dimuat dalam International Journal of Sport Nutrition and Exercise Metabolism.
AWP

Sumber : metrotvnews.com