Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah mengutarakan tak gampang menekan angka “backlog” maupun kebutuhan perumahan sederhana di Jateng sebab terkendala oleh sulitnya memperoleh lahan.

“Tuk memperoleh lahan yang harganya serasi dengan harga jual rumah sederhana itu enggak mudah,” tutur Wakil Ketua REI Jawa Tengah Bidang Perumahan Sederhana Andi Kurniawan di Semarang.

Terlebih lagi didaerah kota-kota besar, lahan dengan harga yang rendah telah tidak lagi dapat diperoleh dengan mudah. Bahkan, pada saat ini buat Kota Semarang hanya ada satu pengembang yang masih membangun rumah sederhana yakni Wisata Hati yang berada di Kecamatan Genuk.

Untuk diketahui, disaat sekarang ini angka backlog rumah sederhana di seluruh Indonesia mencapai 13 juta unit. 10% diantaranya khusus backlog di Jawa Tengah.

“Kami sendiri pun merasai, dalam menekan angka backlog ini sulit karena antara produksi dengan permintaan tidak seimbang. Di satu sisi produksi terhambat salah satunya karena lahan tetapi di sisi lain permintaan terus mengalir dari masyarakat,” katanya.

Selain lahan, yang jadi hambatan lainnya, tuk pembangunan rumah sederhana ini salah satunya ialah masalah regulasi perizinan. Penilaian dia, yang menyulitkan ialah Perda Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di setiap kabupaten/kota tidak seragam.

“Masing-masing daerah ini punyai kebijakan sendiri, ada yang gampang ada juga yang agak-agak rumit. Ini tentunya menyulitkan para pengembang,” katanya.

Semisal, ada daerah yang mematok buat pengurusan IMB sebesar Rp2,5 juta per unit, padahal idealnya ialah Rp200 ribu-Rp500 ribu per unit.

Terkait dengan hal itu, disaat sekarang ini pihaknya mengharapkan adanya dukungan dari Pemerintah Daerah. Dengan adanya keseragaman regulasi, pihaknya akan lebih mudah buat memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang jadi segmentasi pasar dari rumah sederhana ini.