Astra Honda Motor (AHM) baru saja merilis buatan sepeda motor berkubikasi besar (moge), Honda CBR500R, akhir Februari 2016. Satu bulan berlalu, akhirnya saya berkesempatan untuk menjajal moge Honda ini di jalanan Ibu Kota.

Walau tidak senyaman menggunakan tunggangan motor biasa (di bawah 250cc). Mengendarai sepeda moge “entry level” ini cukup mengasyikan. Buat sebagian biker, bisa dijadikan tren sendiri, mengendarai moge sebagai rutinitas harian.

Sekilas melihat CBR500R, yang pertama kali terlintas di kepala yaitu bobotnya yang terkesan ringan, karena bodinya yang relatifslim. Namun saat dinaiki dan dikeluarkan dari parkiran (tanpa mesin menyala), ternyata bobotnya cukup terasa berat. Dari data spesifikasi, CBR500R punya berat hampir 200 kg (192 kg).

Miliki ketinggian tempat duduk 785mm, membuat kaki dengan tinggi 171cm hampir menapak ideal di aspal. Kesan duduk pertama kali, sebelum moge Honda ini dijalankan, cukup nyaman.

Untuk merasai kesan berkendara lebih dalam, akan lebih pas jika sembari diajak berjalan. Putar kunci kontak ke arah kanan, kemudian nyalakan mesin dengan tekan tombol starter elektrik. Suara mesin terdengar halus, lantas masuk ke gigi satu dan CBR500R siap berpetualang.

Dalam keadaan berjalan, posisi pijakan kaki berada sedikit mundur kebelakang (gaya racing), namun tidak membuat kaki menekuk dalam, sehingga masih dalam posisi wajar. Sementara posisi badan tidak terlalu menunduk. Ini berimbas pada lengan, yang hanya sedikit terbebani oleh berat tubuh, sehingga tidak membuat tangan terlalu terasa pegal.

Saat pertama kalinya mengendarai CBR500R dijalan Palmerah Selatan, menuju Rawamangun, Jakarta Timur. Pada jalur yang dilewati tersebut, langsung disambut dengan kondisi macet. Macet di sepanjang jalan dukuh atas hingga Manggarai, kemudian juga di jalan setelah menuju perempatan Matraman.

Dalam keadaan itu, produk moge Honda tersebut cukup bersahabat diajak bermanuver, punya keseimbangan dan kontrol kemudi (handling) mumpuni. Namun, untuk kebanyakan sepeda motor berkubikasi besar, panas mesin jadi salah satu ketidaknyamanan saat menghadapi jalan macet.