Keberhasilan Fernando Santos membawa Portugal jadi sang jawara Piala Eropa 2016, pada hari Minggu kemarin, menambah cerita manis pelatih buangan Yunani.

Santos berlabuh di Portugal sejak September 2014 atau tiga bulan seusai angkat kaki dari Yunani. Federasi Sepak Bola Yunani (HFF) tak mau “memperpanjang” kontrak pelatih berusia 61 tahun itu.

Catatan merah mengunci aksi Santos bersama tim bersebutan Galanolefki. Mereka disingkirkan Kosta Rika lewat adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 2014, 29 Juni 2014.

Dalam laga akhirnya, Santos dipaksa keluar lapangan oleh wasit. Akibat aksi tidak sportifnya, dia turut diganjar skorsing delapan pertandingan, lalu dikurangi menjadi enam seusai banding.

Selama empat tahun membimbing Yunani, Santos tidak mampu mengimbangi peraihan pendahulunya “Otto Rehhagel”. Nama terakhir mengantarkan tim non-unggulan itu menjuarai Piala Eropa 2004 dengan menaklukkan Portugal di final.

Kekecewaan Portugal 12 tahun lalu dibayar oleh Santos tahun ini. Seleccao, julukan mereka, menjadi kampiun setelah menang 1-0 atas tuan rumah lewat babak perpanjangan waktu.

Dia masih memanggul cara Yunani selama turnamen. Portugal tidak cemas bermain defensif. Gaya tersebut dikonfirmasi oleh statistik final yang menunjukkan cuma 3 tembakan ke arah gawang dilepaskan Portugal berbanding 7 milik Perancis.

Di bawah Santos, Portugal dan Yunani sangat susah ditekuk. Enam tahun lalu, Santos mengawali kariernya di Yunani dengan catatan 17 pertandingan “tanpa kalah”. Aksi Portugal di Piala Eropa kali ini juga demikian. Dalam waktu normal, enam dari tujuh pertandingan yang dilalui mereka berakhir imbang. Seleccao baru bisa meraih kemenangan dalam 90 menit pada semifinal melawan Wales, pada hari Rabu kemarin.

“Kami bermain sederhana seperti merpati dan cerdik serupa ular,” tutur Santos setelah laga final, seperti yang diberitakan situs resmi UEFA.

Santos bukanlah semata wayangnya juru racik yang berhasil seusai didepak oleh Yunani. Kisah serupa dialami suksesornya, “Claudio Ranieri”. Masa bakti Ranieri bahkan jauh lebih singkat, yaitu empat bulan. Dia didepak akibat kekalahan Yunani dari Kepulauan Faroe pada Kualifikasi Piala Eropa 2016, 14 November 2014.

Nasib Ranieri membaik ketika menerima proposal LeicesterCity setahun berselang. Secara mengejutkan, pria asal Italia itu membawa Leicester juara Premier League 2015-2016.