yandex
Gaya HidupKesehatan

Hal Terpenting bila Orangtua Mengalami Post Power Syndrome

Mayoritas orang pernah mengalami beberapa masalah mental saat menjelang masa pensiun “antara 55-60 tahun”. Stres, depresi, tidak bahagia, merasa kehilangan harga diri dan kehormatan, serta sering mengeluh tentang tak enaknya masa pensiun. Dalam istilah medis, hal ini disebut dengan post power syndrome.

“Post power syndrome” adalah semacam tanda psikologis yang terjadi seusai seseorang berhenti atau keluar dari profesi atau kekuasaan mereka.

Menurut Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Si, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, mengutaran bahwa, enggak semua orang tua bakal mengalami “PPS”.

PPS umumnya dialami pada seorang pejabat yang telah mengakhiri masa tugasnya atau pensiun. Perilaku ini terjadi karena sebelumnya dia dihormati dan disegani, kemudian dengan cepat kehormatan dan kekuasaannya hilang dan dianggap tidak memiliki wewenang lagi.

Orang dengan PPS mengenang bayang-bayang kebesaran masa lalu (dapat menjadi istilah, karir, kepemimpinan, kecerdasan, atau hal-hal lain), dan masih sering melarikan diri dari kenyataan yang ada saat ini sehingga memicu gejala di bawah ini:

Gangguan fisik: terlihat lebih tua, dan sering sakit-sakitan.
Gangguan emosi: iritabilitas, cenderung lebih menyukai menyendiri dari lingkungan.
“Gangguan perilaku: Senang bercakap tentang keistimewaan dia pada masa lalu, senang menyerang pendapat orang, tidak mau kalah, dan menunjukkan kemarahan baik di rumah, tapinya di tempat-tempat umum.

Bagaimana cara mencegahnya?
Ada beberapa anjuran psikologis untuk menjauhi diri dari post-power syndrome:
1. Sebelum atau sesudah menjabat, harus mengetahui bahwa segala sesuatu adalah karunia dari Allah, termasuk kekuasaan dan jabatan.

2. Tapinya tidak ada kewenangan yang abadi, sehingga setiap orang harus menyiapkan diri dalam saat kekuasaan itu sudah tidak ada lagi.

3. Selalu mengetahui bahwa ambisi kewenangan yang utama bukan untuk dihormati sebagai atasan oleh orang lain, tapinya bagaimana bisa berbuat lebih banyak untuk kesejahteraan orang lain.

Saran untuk anggota keluarga

Terpentingnya yang perlu dilakukan adalah pemahaman bahwa penderita tidak menyadari gejala yang dia alami. Anda harus belajar untuk menerima mereka dan tidak menanggapi kemarahannya dengan kemarahan juga.

Dianjurkan agar orangtua dengan PPS didorong bahwa mempunyai berbagai kegiatan untuk menyalurkan emosi negatif atau ketidakpuasan hidupnya secara lebih konstruktif.

“Membuat usia tua kita tetap bugar dan bahagia itu sebenarnya gampang kok. Cukup membebasi mereka tetap bekerja sesuai dengan kemampuannya. Tapinya jangan dilarang-larang hanya karena mereka sudah tua. Jadi, masalah-masalah mental lansia itu dapat dikurangi atau disembuhkan dengan tetap membuat mereka aktif, sesuai kemampuannya, membuat mereka tetap bersosialisasi bersama sesamanya,” tutur Diantini.

Diantini juga menganjurkan, agar anggota keluarga membuat orang tua dengan PPS merasa bahagia dengan menjadi dirinya sendiri.

Responlah atas pengalamannya yang pastinya lebih banyak, lantaran memang sudah lebih tua. Pasalnya, pada umumnya penghargaan dan penghormatan itu kebutuhan hakiki” semua manusia, di usia berapapun, termasuk untuk para lansia seperti orangtua Anda.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button