yandex
Bisnis

Gurihnya Menggeluti Bisnis Nasi Goreng Mafia

Bermula dari minatnya menggeluti dunia bisnis, Stefanie Kurniadi dan 6 orang sahabatnya memberanikan diri unutk memulai bisnis nasi goreng. Usaha yang mulai dirintis sejak tahun 2013 ini sudah memiliki cabang yang terpencar di beberapa kota di Tanah Air seperti Jakarta, Pekanbaru, sampai Bandung.

“Usaha ini digeluti dengan keenam sahabat saya. Kami berasal dari latar pendidikan yang berlainan dan punya minat yang berbeda juga. Saya adalah seorang arsitek, saya yang mendesain tempat usaha ini. ada juga teman saya yang punya pendidikan di bidang keuangan dan sekarang jadi finance marketing dari usaha ini,” ujar Stefanie.

Hingga kini, Nasi Goreng Mafia telah mendirikan 24 cabang di beberapa kota di Indonesia. Mulanya, bisnis nasi goreng ini dirintis dengan mendirikan sebuah kios kecil di Bandung. Seiring dengan semakin banyak peminatnya, Stefanie pun membuka kembali cabangnya di sejumlah kota-kota besar.

Stefanie bersama keenam sahabatnya itu memilih nasi goreng sebagai lading usahanya lantaran berdasarkan risetnya, nasi goreng dan rending merupakan jenis makanan yang paling banyak digemari dan dicari masyarakat Indonesia.

nasi-goreng-mafia

“Usai kami melakukan riset, rupanya makanan yang paling banyak digemari orang-orang Indonesia adalah nasi goreng dan juga rending. Untuk itu kita memutuskan menggeluti bisnis nasi goreng,” pungkas Stefanie.

Kerap kali, dalam menggeluti sebuah bisnis, seorang pelaku usaha merasa kesulitan untuk bisa fokus menjalankan usaha mereka. Stefanie pun menyadari dan mengalami hal ini selama menggeluti bisnis Nasi Goreng Mafia ini.

Stefanie menuturkan bahwa dalam menggeluti sebuah bisnis, setiap pebisnis tersebut harus mempunyai partner usaha. Dengan demikian, maka bisa saling memberikan semangat satu sama lainnya dalam membangun bisnis yang dirintisnya.

“Partner usaha memang begitu krusial dalam menggeluti sebuah bisnis. Didalamnya, patner bisnis memiliki peran untuk memberikan semangat dan dorongan ketika sedang terpuruk. Sebab, dalam berbisnis kadang muncul mood yang tidak bagus. Jadi harus ada patner. Itu akan lebih oke dalam berbisnis,” beber Stefanie.

Tak hanya itu, Stefanie juga mengaku, dalam menggeluti sebuah bisnis, setiap pebisnis harus mempublikasikan bisnisnya kepada banyak orang. Pasalnya, sekian banyak orang yang mengetahui bisnis yang dirintis, hanya ada 10% yang berminat untuk membeli produk dari bisnis yang ditekuni. “Jika ada 100 orang yang mengetahui bisnis kita, paling yang beli cuma 10. Kalaupun ada 1000 orang, yang beli produk kita 100 orang,” tambahnya.

Dalam menggeluti bisnis Nasi Goreng Mafia, Stefani mengaku dirinya harus lebih serius dan fokus. Dengan bermodalkan dana yang kecil, harus bisa menghasilkan sesuatu yang tak terhingga. “Kalau untuk modalnya tidak seberapa, tapinya kita harus melakukan riset yang tepat untuk menghasilkan sesuatu yang besar,” pungkasnya.

Agar mampu memikat perhatian banyak orang, bisnis Nasi Goreng Mafia yang digeluti Stefanie menawarkan nasi goreng super pedas yang tersedia dalam beberapa level. Menurutnya, orang Indonesia sebagian besarnya suka dengan makanan yang pedas.

Untuk mengurus 60 outlet miliknya, Stefanie dan keenam rekannya merekrut 600 orang karyawan. “Salah satu hal terpenting dalam menggeluti bisnis nasi goreng ini adalah sumber daya manusianya. Karena pada dasarnya, penentuk keberhasilan dari bisnis restoran ini adalah karyawan di outlet,” tambah Stefanie.

Dalam menjamin kualitas dari karyawan di setiap outletnya, Stefanie menerapkan sistem magang bagi karyawan baru dalam jangka waktu beberapa bulan. “Setelah masa magang tersebut berakhir, ada proses training. Setelah melalui tahap tersebut, baru mereka bisa langsung bekerja,” paparnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button