Startup transportasi yang berasal dari Indonesia Go-Jek ini berencana memperluas layanannya dengan menyediakan modal transportasi sewaan berbasis kendaraan roda empat (mobil). Layanan itu akan diberi nama Go-Car. Kabar tersebut datang dari Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah. Menurut Andri, Go-Jek sedang menyajikan sistem yang sama dengan yang diigunakan oleh Grab.

“Go-Jek menanyakan syarat bagaiaman prosedur untuk membuat Go-Car, mereka berencanya bekerjasama dengan perusahaan taksi, saya bilang silahkan saja,” tutur Andri sehari seusai bertemu dengan CEO Go-Jek, Nadiem Makarim.

Penilaian Andri, Go-Jek cuma perlu membicarakan progamnya itu dengan perusahaan taksi dan Organda untuk berdiskusi soal tarif.

“Kami akan coba mengeksplorasi hasil analisisnya dan mengasih persetujuan disaat semuanya sudah beres,” imbuh Andri.

Dijelaskan oleh Andri, Go-Jek tidak perlu lagi membikin badan hukum maupun mengurus izin baru, karena operator-operator taksi yang akan diajak bekerja sama telah mempunyainya.

Layanan taksi berbasis aplikasi belakangan makin mencolok di Indonesia. Selain Grab, Uber juga diketahui memiliki layanan tersebut. Keduanya sempat mendapatkan penolakan dari pelaku di industri taksi konvensional.

Alhasil, pemerintah mengambil jalan tengah dengan meminta agar disaat startup transportasi yang beraksi di Indonesia harus memiliki badan usaha tetap atau bekerja sama dengan perusahaan/koperasi lokal yang sudah memiliki badan hukum, sehingga bisa dikenai pajak.