Trafik ocehan dari akun pendukung “ISIS” di Twitter merosot hingga 45% dalam kurun waktu dua tahun. Menurut kantor kepresidenan AS, Gedung Putih, hal ini tak lepas dari maraknya kampanye anti terorisme yang disebar melalui media sosial.

“Kampanye itu antara lain lewat unggahan gambar dan pesan-pesan yang mendeskripsikan penderitaan para korban terorisme. Selain itu, kebrutalan para teroris juga disebar lewat konten maya, sebagaimana diberitakan DigitalTrends dan dihimpun oleh Godetik, pada hari Senin kemarin.

Tapinya kata kunci yang paling sering dipakai adalah “pemotongan anak-anak”, “pembunuhan orang tak berdosa”, dan “penghinaan kemanusiaan”.

Ada juga sebuah foto yang mengunjukkan laki-laki menutup mulut seorang perempuan. Foto itu dibubuhi keterangan yang berbunyi “ISIS membungkam suara perempuan”. Foto lain yang juga menyentuh banyak pihak memperlihatkan seorang perempuan berhijab hitam. Perempuan itu mengusap air matanya yang berdarah.

Perempuan di bawah ISIS. Dijadikan kacung. Dikhianati. Dipukul. Dihina. Dicampuk,” begitu bunyi pesan yang mengiringi gambar tersebut.

Propaganda online ditumpas via online

White House menduga media sosial sebagai tempat yang tepat untuk menumpas ISIS. Pasalnya, organisasi tersebut selama ini menggunakan ranah maya untuk menyebar propaganda dan membuka perekrutan anggota. Dengan maraknya suara membela ISIS lewat internet, kata Gedung Putih, perlawanan yang paling ampuh harus dilakukan lewat media yang sama.

“Kami melihat eksistensi ISIS di ranah online semakin berkurang. Masyarakat anti terorisme semakin vokal di media sosial. Hal ini akan meredupkan kemampuan ISIS untuk merekrut anggota,” kata Head of Global Engagement Center Michael Lumpkin.

Perusahaan media sosial seperti Twitter dan Facebook pun menyokong upaya penghapusan aksi terorisme. Kerja sama antara pemerintah AS dan raksasa-raksasa Silicon Valley dianggap membawa hawa positif. Sebagai contoh, Twitter telah memblokir sekitar 125.000 akun ISIS sejak pertengahan 2015.