Jakarta: Ahli hukum pidana Chairul Huda menilai ada dua kesalahan KPK dalam menetapkan mantan Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai tersangka. Pertama, penetapan tersangka dilakukan pada tahap penyelidikan.

Sedangkan dalam Pasal 8 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) disebutkan penetapan tersangka terjadi pada tahap penyidikan.

“Yang paling penting terungkap di persidangan penetapan tersangka SDA itu dilakukan pada tahap penyelidikan,” kata Chairul usai sidang praperadilan Suryadharma Ali (SDA) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2015).

Kesalahan kedua KPK adalah tidak melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam menghitung dugaan kerugian negara dalam kasus yang diduga melibatkan Suryadharma Ali. Padahal, menurut dia, undang-undang mengatur bahwa BPK memiliki otoritas mengaudit kerugian negara.

“Kedua penetapan tersangka SDA itu di dalam tahap penyelidikan didasarkan pada penghitungan sendiri, adanya kerugian negara yang dilakukan oleh penyelidik,” terangnya.

“Dua dosa besar itu. Di penyelidikan tidak berwenang menetapkan tersangka, juga tidak boleh menetapkan tersangka berdasarkan penghitungan sendiri,” sambung dia.

Menurut dia, KPK harus lebih hati-hati dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka dengan mencermati alat bukti. “Kalau tidak ada alat buktinya, tidak cukup dinaikkan ke tahap penyidikan,” tandas dia.

Permasalahan dugaan adanya kerugian negara yang dilakukan SDA ini memang menjadi fokus tim kuasa hukum. Pasalnya, ia menduga tuduhan kerugian negara itu timbul dari hasil analisis yang dilakukan penyidik KPK tanpa melibatkan BPK.

SDA diduga menyalahgunakan dana penyelenggaraan haji sebesar Rp1 triliun. Dana itu berasal dari APBN dan setoran calon jamaah haji melalui tabungan haji.

SDA diduga melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 65 KUHP.

TRK

Sumber : metrotvnews.com