Duakali – Fibrilasi atrium (FA) atau keadaan detak jantung yang tak berirama bisa menyebabkan stroke. Jangan dianggap sepele karena FA yang memicu stroke bisa meningkatkan kematian sebesar 60% dan kecacatan pada pasien 20%.

Dr dr Sunanto, SpJP, dalam seminar kesehatan di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, mengujarkan FA adalah gangguan tempo listrik pada jantung yang tidak teratur. Umumnya terjadi karena usia lanjut dan darah tinggi.

FA terjadi pada jantung serambi kiri yang memicu gerakan yang tidak berirama atau hanya bergetar. Dampaknya darah pada jantung tidak bersirkulasi dengan baik dan menjadi beku.

“Pembekuan darah ini suatu saat akan lepas dan mengarah ke otak yang umumnya lewat pembuluh darah besar. Darah yang beku dapat mengganggu darah ke otak yang menyebabkan stroke,” tambah dr Sunanto.

Dr Sunanto menganjurkan waktu terbaik saat ingin mengecek FA pada tubuh adalah saat jantung berdebar-debar. Karena salah satu gejala FA adalah jantung yang berdebar-debar secara tiba-tiba.

“Untuk menemukan FA dapat dilakukan lewat pemeriksaan dengan mesin elektrokardiografi (EKG) yang mempunyai ketepatan hingga 80% atau dengan cara sederhana yaitu meraba denyut nadi apakah detak nadi teratur atau tidak,” terangnya dr Sunanto.

Selain dengan EKG dan menjamah detak nadi, ada cara lain seperti treadmill test yaitu pasien melakukan treadmill agar tampak denyut jantung, dan holter monitor yaitu alat yang ditempel pada tubuh selama 24 jam hingga terdeteksi FA.

“Tapinya cara ini tidak ampuh karena bisa saja FA tidak ditemukan karena FA bisa hilang dan muncul kapan saja,” pungkas dr Sunanto.