Umumnya, setiap seniman menciptakan karya lukisnya di atas sebuah kanvas dengan menggunakan cat minyak maupun cat air. Hal ini berlainan dengan Febri Yunarta yang menciptakan sebuah karya lukis menggunakan serabut kelapa ffiber serta ijuk sebagai bahan lukisannya.

Sebelumnya, Febri Yunarta berprofesi sebagai seorang seniman dari Sumatera Utara yang menciptakan produk kursi dan gantungan baju kayu serta replika serabut kelapa. Febri mengaku, limbah sisa serabut kelapa tersebut sempat membuat para tetangga di sekitar rumahnya marah. Sebab, Febri sering membakar sisa serabut tersebut, sehingga sangat mengganggu warga di lingkungan sekitarnya.

“Sisa serabut dari pembuatan kursi dan gantungan baju biasanya saya bakar di belakang rumah. Kemudian ada tetangga yang menegur saya. Dia bilang kenapa sisa serabutnya tidak dijadikan karya seni saja? Supaya orang lain disekitarnya tidak kena asapnya,” tutur Febri.

Sejak saat itulah, Febri kemudian memperoleh ide untuk menciptakan lukisan dari serabut kelapa dan juga ijuk. Awalnya, lukisan pertama yang dibuatnya adalah sosok Presiden Jokowi, tepatnya di awal tahun 2016. Setelah selesai, Febri mengumpulkan 20 orang untuk memberikan komentar dan tanggapan terhadap lukisannya tersebut. Dari 20 orang itu, ada 18 orang yang bisa mengenali jika sosok yang dilukis Febri adalah Presiden Jokowi, dan sisanya tidak sependapat.

Karena lebih banyak yang mengatakan mirip dan bagus, alhasil Febri memutuskan untuk menggeluti bisnis lukisan menggunakan serabut kelapa dan ijuk. Hasil karya lukisannya diberinya nama Cocofiber Art.

lukisan-cocofiber-art

Bisnis lukisannya itu diolahnya bersama seorang rekannya, Susanto yang bertugas sebagai coordinator produksinya. Sedangkan Febri bertugas sebagai pelukis serta pemasar dari produ-produk yang dihasilkannya.

Harga lukisan yang diproduksi Febri cukup beragam. Untuk lukisan yang ukurannya standar atau 50 x 75 cm, dibanderolnya seharga Rp 5 sampai 15 juta. Banderol harga yang ditetapkan sesuai dengan ukuran, tingkat kesulitan, serta spesifikasi yang diminta para pemesannya.

Sementara untuk replika serabut kelapa dan ijuk dibanderol seharga Rp 100 – Rp 350 per itemnya. Beragam replika yang diproduksi dari bisnis lukisan Cocofiber Art ini seperti motor Harley Davidson, replikas hewan, dan juga becak motor yang menjadi kendaraan khasnya di Sumatera Utara. Masing-masing replikanya dirancang dengan dimensi panjang 30 cm dan tinggi 10 sampai 15 cm.

Sebelumnya, pangsa pasar dari Cocofiber Art ini masih diprioritaskan untuk daerah Sumatera Utara dan Bali saja. Tapinya saat ini, sejumlah produknya sudah mulai dipasarkan ke beberapa daerah lainnya, seperti Padang, Manado, dan juga Jakarta.

Tak hanya di dalam negeri saja, bisnis lukisan Cocofiber Art juga sudah dikenal di pasar mancanegara. Hal ini berkat keaktifan Febri untuk berpartisipasi dalam sejumlah pameran Internasional di Bali yang didalamnya menghadirkan 30 negara.

Dari keaktifannya mengikuti pameran, permintaan lukisan dan replika serabut kelapa dan ijuknya itu semakin melonjak. Bahkan, Febri mengaku jika ada yang memintanya untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ada di negara-negara, seperti Filipina dan Afrika.

Febri mengaku, omzet per bulannya yang ia dapatkan dari bisnis lukisan dan replika serabut kelapa dan ijuknya mencapai Rp 10 hingga Rp 20 juta. Tak hanya melukis dan menjual lukisan, Febri juga sudah melakukan beberapa pelatihan ke sejumlah sekolah SMA di kawasan Sumatera Utara. Hal ini dilakukannya sejak Maret 2016 lalu.

“Karena ini adalah bisnis lukisan dan karya perdana yang ada di Tanah Air, jadinya saya memiliki misi untuk memperkenalkan kerajinan tangan ini lebih luas lagi melalui adanya pelatihan. Tak hanya itu, pembekalan keterampilan ini juga saya berikan kepada anak-anak SMA supaya pengetahuannya lebih luas dalam memanfaatkan hasil alam yang dimiliki Indonesia,” terang Febri.