Menjadi seorang polwan bagi sebagian wanita di Indonesia adalah hal yang menarik dan mengagumkan, bisa bermanfaat untuk membela negara Indonesia, tetapi bagaimana saat menjalani tes organ reproduksi, calon polwan justru pingsan?

Seperti dilansir dari tempo.co (20/11), berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Human Rights Watch, Lembaga Swadaya Masyarakat pemantau hak asasi manusia dari depalan polisi wanita dan calon polisi yang berada di enam kota Indonesia yang telah menjalani tes organ reproduksi, mengatakan bahwa tes organ reproduksi itu dilakukan disebuah ruangan.

Jadi satu persatu calon polwan masuk kedalam ruangan terbuka tersebut, kemudian seorang dokter wanita lalu memeriksa mereka dengan cara memasukkan jarinya yang terbungkus sarung tangan ke dalam vagina mereka.

Dalam siaran pers, Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch menjelaskan perasaan mereka, “Rasanya sakit sekali, bahkan ada teman saya yang sampai pingsan saat tes organ reproduksi. Saya sangat malu sekali karena di dalam ruangan tidak tertutup.”

Selain tersiksa secara fisik, peneliti dari Human Rights Watch ini juga mengatakan bahwa banyak calon polwan yang mengalami trauma setelah pemeriksaan itu, padahal para perempuan tersebut diharapkan dapat mengendalikan emosi masyarakat ketika sudah menjado polisi.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Ronnie Frangky Sompie mengatakan tes yang dialami para calon polwan itu bukan tes organ reproduksi, melainkan tes kesehatan menyeluruh. Ia mengatakan tes kesehatan itu sudah ada sejak dulu. Menurut dia, tes dengan cara seperti itu dianggap wajar.