yandex
Bisnis

Bisnis Batik Pringmas, Wanita ini Hasilkan Omzet 20 Juta/Bulan

Saat ini, peluang usaha batik semakin menjanjikan. Tak heran jika pelaku usaha ini kian berjamuran di Tanah Air. Dengan semakin meluasnya batik sebagai trend busana yang modern, memberikan peluang besar untuk memanfaatkan usaha ini untuk mendapatkan keuntungan yang berlimpah. Bahkan sudah banyak pelaku usaha yang saat ini sukses merintis bisnis bantik yang penjualannya sudah merambah ke berbagai daerah di Indonesia.

Penggunaan batik saat ini tidak hanya marak dipakai di kalangan pejabat atau orang-orang penting lainnya, tapi sudah mulai diminati oleh para remaja. Kreativitas para perancang busana pun kian produktif untuk menciptakan beragam inovasi baru dalam membuat desain pakaian batik yang dipadukan dengan kain polos sehingga tampak lebih modern dan stylish.

Pecinta kain batik yang semakin meningkat ini direspon positif oleh para pengrajin batik. Bahkan seniman batik tulis semakin berantusias untuk menciptakan karya batiknya yang bernilai tinggi. Alhasil, batik tulis semakin berkembang dan menggeser maraknya produknya batik printing di Tanah Air.

Sebelum batik dikenal di kalangan masyarakat secara luas, industri batik di Tanah Air kurang beruntung. Salah satu bisnis batik yang semakin berkembang seperti di daerah Purwokerto dan Banyumas, sehingga menjadikan 3 TKI kembali ke Indonesia untuk merintis usaha batik yang lebih menjanjikan. Salah satunya adalah Sri Subarkah, yang saat ini tergabung dalam Kelompok usaha batik Pringmas.

“Sejak lama, daerah batik ini semakin diasingkan dan ditinggalkan lantaran pekerjaan membantik menghasilkan pendapatan yang minim. Alhasil, banyak ibu-ibu muda yang bekerja di luar negeri menjadi seorang TKW. Namun seiring berjalannya waktu, batik semakin diminati masyarakat dan mereka bisa menjual batiknya dengan pendapatan yang lebih baik ketibang dulu.

Akhirnya ada beberapa TKW yang memutuskan untuk pulang ke Tanah Air karena bisa melanjutkan usaha batik bersama keluarga,” beber Sri, saat dijumpai di Pameran UMKM Balai Kartini, Jakarta Selatan.

Di tahun 2012, Bank Indonesia memberikan pembinaan kepada UMKM di kawasan Banyumas dalam melakoni pengembangan bisnis batik. Sri mengatakan bahwa dirinya dalam kelompok bisnis batiknya memperoleh pelatihan khusus tentang bagaimana melakukan manajemen dan pewarnaan dalam mengembangan usaha ini. Sampai akhirnya, banyak dari mereka yang membuat sendiri batik hasil karyanya.

Sri juga menyatakan jika awalnya ia memperoleh modal bisnis batik berupa bahan baku lilin malam, 30 kain batik, dan peralatan khusus membatik. Dari modal yang diberikan Bank Indonesia tersebut, hasil batik produksinya dilego BI dalam rangka ulang tahun BI tahun 2013.

Sejauh ini, omzet yang diraup dari bisnis batik yang dirintisnya sudah mencapai Rp 20 juta per bulannya. Hal tersebut didapat berkat terjalinnya kerja sama dengan beberapa hotel di kawasan Banyumas. “Tahun ini, kami mendapatkan banyak mitra dari beberapa hotel di Banyumas, seperti Hotel Aston dan Hotel Santika. Kami memasoknya sebanyak 15 kain setiap bulan atau sekitar Rp 5 juta,” tutuy Sri.

Produk yang dihasilkan dari bisnis batik miliknya tidak hanya batik tulis saja, melainkan juga batik jumputan, konveksi, batik cap dan hady craft. Beberapa TKI asal Banyumas juga turut berperan serta dalam mempromosikan batik Pringmas di luar negeri. Berkat hal ini, saat ini Sri sudah mampu mencapai produksi sebanyak 600 potong per tahunnya. Untuk motifnya pun sangat beragam setiap minggunya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button