Sama halnya dengan bisnis kuliner, kini bisnis di bidang fashion juga semakin berjamuran di Tanah Air. Bahkan tak jarang pelaku bisnis yang menggelutinya mampu mencapai kesuksesan dari usaha fashionnya tersebut. Salah satunya adalah Ergy Adhitama yang kini mampu meraih omzet mencapai puluhan juta berkat bisnis batik online.

Berbeda dari jenis batik lainnya, produk batik buatan Ergy ini mengandalkan bahan tenun asal Cirebon yang memiliki beragam pilihan warna dan corak dengan desain yang modis serta kekinian. Produk batik tersebut dinamainya dengan merek Bonolo yang artinya santai.

Saat ini, Bonolo menawarkan 12 desain kemeja yang dikombinasikan dengan 7 pilihan warna yang menarik, seperti abu-abu muda, merah salem, biru tua, hitam, abu-abu tua, biru muda, dan juga hijau. “Akhirnya saya memproduksi batik bernama Bonolo dengan desain yang sederhana dan kekinian yang dapat disukai oleh semua kalangan,” tutur Ergy.

Usaha batik yang digeluti Ergy sendiri mulai berjalan sejak awal tahun 2016 lalu. Ketika itu, Ergy masih berprofesi sebagai seorang karyawan di sebuah perusahan agency di Jakarta. Namun pada Juni 2016, Ergy memutuskan untuk resign dan fokus untuk mengembangkan bisnisnya tersebut.

Pada saat itu juga, Ergy membuat situs resmi dan online shop perdananya Bonolo agar produknya dapat dikenal oleh masyarakat secara luas. Sebelumnya, sejumlah produk batiknya itu hanya dipromosikan kepada teman-teman, sahabat, dan keluarganya saja. Tidak membutuhkan waktu lama, batik bonolo pun langsung menarik perhatian dan minat banyak pelanggan.

batik-bonolo

Dalam bisnis batik online ini, Bonolo memproduksi sejumlah batiknya dengan merealisasikan sistem ready stock. Per bulannya, Ergy mampu memproduksi hingga 90 kemeja. Untuk harganya sendiri, batik Bonolo dibanderol dengan kisaran harga Rp 350.000 sampai Rp 425.000 per potongnya.

Ergy mengaku, dalam dua pekan ia mampu menjual 50 sampai 60 kemeja batik. Dengan bermodalkan Rp 15 juta, kini Bonolo mampu menorehkan omzet di kisaran Rp 45 juta sampai Rp 60 juta setiap bulannya dengan rata-rata produksinya sebanyak 250 potong kemeja.

“Omzet yang kami dapat saat ini tidak menentu, kadang naik dan kadang juga turun. Untuk rata-rata omzet yang kami dapat adalah di kisaran Rp 45 juta hingga Rp 60 juta. Bahkan omzet paling tinggi pernah mencapai Rp 70 juta,” pungkasnya.

Ergy mengaku jika dirinya cukup terkejut dan tidak menyangka dengan respon dari pada konsumennya ketika produk batiknya dipasarkan melalui sistem online. “Saat pertama kali saya ingin merintis bisnis batik online ini saya tidak menyangka jika potensinya akan sebesar itu. Dengan kerja keras dan pengetahuan yang saya dapat, respon pasarnya sangat luar biasa,” bebernya.

Dalam menggeluti bisnis batik online ini, Ergy mengaku tak terluput dari adanya tantangan. Salah satunya adalah apabila akses untuk membeli sulit, besar kemungkinannya konsumen bisa cepat beralih ke produk lain.

Saat ini, Ergy tengah fokus untuk mengembangkan inovasi usahanya yang berbeda dari usaha sejenis. “Sekarang saya masih memikirkan cara bagaimana mengembangkan inovasi dari produk batik ini. Saya juga masih ingin bergelut untuk mencari potensi pasar yang belum terjamah di dalam negeri, jadi belum kepikiran untuk merambah ke pasar internasional,” jelas Ergy.

Menurut Ergy, merintis bisnis batik online di Indonesia masih berpotensi besar, sehingga masih harus dioptimalkan dalam hal pemasarannya. “Saya juga memilki keinginan untuk membawa produk batik ini ke level lain yang lebih inovatif. Saya ingin memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan kepada para pelanggannya,” tandasnya.