yandex
Bisnis

Berawal Dari Keisengan, Wanita Ini Sukses Berbisnis Keripik Olahan Daun

Bermula dari ketidaksengajaannya mengkreasikan cemilan untuk keluarganya, kini wanita bernama lengkap Sri Lestari Murdaningsih berhasil menggeluti usaha keripik berbahan dasar daun dengan perolehan omzet pululan juta rupiah setiap bulannya.

Pada saat itu, wanita yang akrab disapa Sri itu membuat cemilan daun bayam dan singkong dalam jumlah yang banyak, sehingga ia memutuskan untuk membungkusnya sebagian sehingga jadilah 20 bungkus keripik. Kemudian Sri pun iseng-iseng menitipkan keripik tersebut ke beberapa warung di rumahnya.

Tak pernah disangka sedikitpun oleh Sri, ternyata respon masyarakat di sekitar rumahnya mendapatkan respon yang sangat memuaskan. Semua keripik daun yang dititipkannya itu laris terjual. “Saya juga ga nyangka, ternyata banyak yang menyukainya. Tapi saat itu saya hanya membuatnya sedikit,” papar Sri.

Melihat adanya peluang tersebut, Sri pun kembali membuat lagi camilan tersebut. Tapi untuk saat ini, ia mencoba untuk membuat keripik daun kemangi yang memberikan aroma yang wangi. Kali ini, ia menjual dan menitipkan keripik buatannya itu ke toko oleh-oleh yang berada di sekitaran Solo dan Yogya. Alhasil, dalam waktu yang singkat pula dagangan keripik daunnya itu laku terjual.

Sejak saat itu, Sri mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaannya dan mencoba fokus menggeluti bisnis keripik daunnya itu. “Meskipun hasilnya belum terlalu besar, tapinya pendapatan yang dihasilkan lumayan besar, sehingga saya coba untuk lebih fokus untuk menekuninya,” ujarnya.

Setelah bisnis keripik daun ini berjalan hingga 1,5 tahun, Sri kembali menciptakan inovasi baru. Hal ini dimaksudkan agar konsumennya memiliki beragam pilihan. Inovasi baru yang kembali diciptakan Sri adalah membuat keripik daun kenikir, sirih, pare, seledri, dan juga keripik terong.

Mulanya, semua bahan keripik yang diperlukan dalam bisnis keripiknya itu didapatkan dengan sangat mudah dari pekarangan sekitar rumahnya. Tapinya saat sudah semakin meningkatnya permintaan, menjadikan sri membeli bahan-bahan pembuatan keripiknya di pasar.

Setelah bisnis keripiknya sudah berjalan selama 3 tahun, Sri pun semakin gencar dalam memasarkan keripiknya. Bahkan saat ini ia sudah sukses memasarkannya ke beberapa daerah di Indonesia, yakni Sleman, Solo, Bantul, Klaten, Sumatera, hingga Bali.

Tak tanggung-tanggung, wisatawan asing dan lokal pun rela datang langsung ke rumahnya untuk membeli keripik daun buatan Sri. Untuk membantu mengembangkan bisnis keripiknya, Sri diperbantukan oleh 3 karyawan. Setiap harinya, ia mampu memproduksi lebih dari 40 kg keripik dengan variasi rasa yang beragam.

Masing-masing dari keripik yang dijualnya dibanderol dengan harga Rp 5.000 untuk tiap 2 ons daun singkong dan bayam. Sementara untuk keripik pare, terong, seledri, kenikir, dan kemanginya dijual seharga Rp 8.000. Sedangkan untuk harga per kilonya, Sri membanderolnya dengan harga Rp 35.000 untuk keripik singkong dan bayam. Sedangkan untuk keripik daun lainnya, dibanderol Rp 40.000 per kilo gramnya.

Keunggulan yang ditawarkan dari bisnis keripik buatan Sri ini adalah proses penggorengannya yang mengandalkan kayu bakar, sehingga menghasilkan ciri khas yang berbeda dari keripik-keripik lainnya. “Bisnis keripik ini bisa dibilang sangat memuaskan dan dapat menambah penghasilan serta meningkatkan perekonomian keluarga. Setiap harinya, kami bisa mendapatkan uang Rp 1 juta,” beber Sri.

Seiring berjalannya waktu, permintaan keripik buatan Sri semakin banyak berdatangan, baik dari dalam maupun luar kota. Bahkan Sri memberlakukan pemesanan dilakukan 3 hari sebelum hari pengambilannya karena membeludaknya pesanan yang datang.

Karena semakin kewalahan untuk menangani pesanan yang dayang, Sri pun menambah beberapa karyawan yang sebagian besarnya merupakan tetangga. Awalnya, Sri hanya memerlukan 1 orang karyawan, namun saat ini sudah ada tujuh orang karyawan yang membantunya dalam pembuatan keripik daun.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button