Menjadi seorang karyawan di perkantoran terkadang memang akan terasa sangat menjenuhkan. Hal itulah yang mendasari Dimas Aritejo, seorang karyawan yang bekerja di BUMN tertarik untuk menggeluti sebuah bisnis. Bisnis tersebut berbasis di bidang kuliner, yakni makanan cireng.

Ide bisnis tersebut tercetus sejak ia mencoba cireng buatan temannya bernama Najib Wahab di tahun 2013. Yang ia rasakan dari cireng tersebut adalah tekstur dalamnya lebut namun bagian luarnya renyah. Rekannya itu memang sering membuat cireng sejak tahun 2011, tapinya sistem pemasaran yang dilakukannya kurang maksimal dan produksinya pun dilakukan jika ada pesanan saja.

Sejak saat itulah Dimas akhirnya memutuskan untuk mencoba mengembangkan bisnis cireng buatan temannya itu. Tapinya pada saat itu, Najib belum yakin jika dirinya bisa memproduksi cireng dalam jumlah besar. Kemudian, setelah usaha cireng ini sudah popular di kalangan masyarakat, Najib menghubungi Diman dan Catur Gunadi dan melakukan kesepakatan untuk menggeluti bisnis cireng lebih serius di awal tahun 2014.

Dalam menjalani bisnis cireng ini, Najib mendapat tugas dalam proses produksinya, Catur di bagian keuangan dan karyawannya, sedangkan Dimas mengurus branding serta pemasarannya. Ketiga pemuda ini pun berbisnis dengan mendirikan PT Bonju Indonesia Mas dengan mengandalkan modal sebesar Rp 100 juta untuk membeli perlengkapan memasak, menyewa tempat produksi, dan juga membeli mobil bekas sebagai media distribusi.

Bisnis cireng yang ditekuni oleh ketiga pemuda ini dinamai dengan brand Cireng Salju dengan menggunakan kemasan yang menarik dan rapih. Tepatnya di tahun 2014, Cireng Salju mulai dipasarkan dan dipromosikan melalui sebuah pameran yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Guna menjamin kualitas produk cirengnya secara maksimal, Dimas dan kedua rekannya pun segera mengurus sertifikasi halal dari izin Dinas Kesehatan setempat dan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Kami sudah mengurus surat perijinan dan sertifikasi halalnya untuk menjamin kualitas dari produk cireng ini. Awalnya cireng ini kami produksi secara manual, tapi sekarang sudah ada mesinnya sendiri,” ujar Dimas.

Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan bisnis Cireng Salju semakin meningkat. Awalnya mereka hanya mempekerjakan 7 orang karyawan saja, tapinya saat ini sudah ada 90 orang karyawan yang dimilikinya. Saat ini, total asset yang dimiliki PT Bonju semakin tinggi, yakni bisa mencapai Rp 5 miliar. Tak hanya asset, aliran kas pada usaha ini pun semakin membaik.

Walaupun baru menjalani bisnis cirengnya sejak 3 tahun yang lalu, tapinya Dimas mengaku jika pertumbuhan Cireng Salju mereka terbilang sangat pesat. Bahkan saat ini, setiap harinya mereka mampu memproduksi sebanyak 5.000 bungkus cireng. Guna semakin memperbesar usahanya tersebut, ketiga pemuda ini pun menambah inovasi terbarunya, yakni dengan memproduksi cilok salju di akhir tahun 2015 dan cuankie di tahun 2016.

Untuk produksi kedua produk terbarunya itu, setiap harinya mereka bisa memproduksi masing-masingnya sekitar 1.000 bungkus setiap harinya. Sementara untuk harga cireng salju yang ditawarkannya adalah mulai dari Rp 12.000 hingga 20.000.

Dengan harga jual tersebut, PT Bonju mampu meraup omzet hingga Rp 1 miliar setiap bulannya. Bisnis Cireng Salju ini juga mengandalkan sistem berjualan distributor dan reseller untuk semakin meningkatkan pertumbuhan bisnisnya. Kini, sudah ada 40 distributor, 600 agen dan ribuan reseller yang sebagian besarnya tersebar di seluruh kawasan Indonesia, kecuali Papua, Maluku, dan Sulawesi.