EPL Cup – Tersisa satu laga terakhir bagi Jose Mourinho sebelum merengkuh piala pertamanya selaku juru taktik Manchester United, sudah barang tentu prioritas utama Mourinho saat ini adalah untuk memenangkan partai akhir EFL Cup. Komitmen untuk memulihkan The Red Devils ke masa kejayaan mereka seperti beberapa tahun lalu mungkin bisa diawali dengan mengangkat trofi pertama mereka musim ini.

Awal Pembuktian Kiprah Mourinho Sebagai Juru Racik Strategi MU 2


Jika dibandingkan dengan Liga Primer Inggris atau FA Cup, meski EFL Cup hanya kejuaraan kasta ketiga. Tapi, bagi The Special One mungkin kejuaraan ini berarti lebih dari itu. Pada awal kemunculannya di Inggris, musim 2004/2005 selaku juru racik Chelsea, piala pertama yang ia hadiahkan adalah piala dari kejuaraan ini. Meskipun sukses merajai Liga Primer Inggris pada musim yang sama, tentu menjuarai EFL Cup kala itu seolah membuka pintu keberhasilan bagi Mourinho di Britania.

Mourinho pun berpendapat, Ketika seseorang terbiasa menang, dan saat gagal, ia pasti akan merindukan rasanya meraih kemenangan. Dan akan sangat sulit menerima kegagalan oleh sebab itu dorongan untuk berhasil akan terus diupayakan. Makanya kemenangan MU di kejuaraan ini akan membangkitkan motivasi para pemainnya untuk berupaya lebih keras di kejuaraan lainnya.

Sejauh ini, operasi yang dilakukan Mourinho untuk The Red Devils mulai menghasilkan rapor positif. Mewarisi kesebelasan yang berakhir di peringkat kelima musim lalu dan mempunyai sejumlah cacat pada aspek kapasitas skuat, Mourinho sukses mengatasi paling tidak sejumlah masalah itu. Zlatan Ibrahimovic, Paul Pogba, Eric Bailly, dan Henrikh Mkhitaryan didaratkan untuk memperkokoh tim mereka. Walau rumor kedalaman kesebelasan itu masih ada, paling tidak saat ini Setan Merah telah memiliki skuat yang mumpuni untuk bertanding di sejumlah kejuaraan.

Tentu, kini MU hadir dengan predikat mereka sebagai unggulan. Selain karena materi pemain dan penampilan yang lebih konsisten, histori pun ikut berpihak pada mereka. Southampton belum satu kalipun menang atas MU dalam fase knockout kompetisi apapun sejak 1986. Namun, terakhir kali kedua kubu ini bertautan pada partai akhir sebuah kejuaraan, Southampton kerap keluar sebagai pemenang. Kala itu kompetisi FA Cup tahun 1976 dimana The Saints menang 1-0 atas The Red Devils.

Psikis MU sendiri sedang dalam kondisi yang baik. Akhir pekan lalu, mereka baru menumbangkan Blackburn di kompetisi FA Cup. Meski terdengar biasa, tapi pada laga tersebut MU kecolongan angka lebih dulu dari lawannya itu. Ketenangan yang diperlihatkan oleh anak didiknya dan tentunya keikutsertaan Ibra dan Pogba dari bangku cadangan, membuat mereka terus melaju di FA Cup musim ini.

Playmaker MU, Ander Herrera berpendapat, semua pihak yang menyaksikan laga mereka akan langsung menyadari bahwa ada kesebelasan besar yang berlaga karena mereka sukses mendominasi seluruh laga atau paling tidak sebagian besar. Ketika Blackburn mencuri gol, timnya tetap tenang dan sukses menghasilkan cukup banyak peluang. Mereka sukses menunjukkan bahwa timnya tidak mudah ditumbangkan.

Sikap mental yang serupa tentu patut ditampilkan oleh The Red Devils pada partai puncak EFL Cup. Dengan beban berat di laga itu, tentu tidak menghapus kemungkinan jika The Saints mungkin saja mendominasi pertandingan tersebut. Jika mereka sanggup melalui itu semua nantinya, tentu kesuksesan mereka menjuarai kejuaraan ini bisa menjadi awal dari piala-piala lainnya di masa kepelatihan Mourinho.