Melalui Priv, BlackBerry menempuh langkah bersejarah dengan memakai sistem operasi Android di smartphone besutannya. Tapinya bahkan itupun belum mampu menyelamatkan kinerja penjualan BlackBerry.

The New York Times, pada hari Senin kemarin, menurut laporan tentang keuangan terkini dari BlackBerry untuk kuartal yang berakhir pada bulan Februari lalu mewartakan bahwa perusahaan itu hanya berhasil menjual 600.000 unit handphone.

Digit tersebut lebih rendah 100.000 unit daripada kuartal sebelumnya. BlackBerry pun mencatatkan kerugian sebesar 238 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,1 triliun, dibandingkan dengan profit 28 juta dollar AS dalam kuartal yang sama tahun lalu.

CEO BlackBerry John Chen mengaku penjualan BlackBerry Priv memang tidak sebagus yang dipinginkan.

Dia berargumen ini terjadi karena pasar smartphone high-end yang disasar oleh Priv memang sedang lesu. Masalah lainnya, pengiriman ke operator dan toko-toko ritel mengalami penundaan.

“Depresinya pasar smartphone high-end menghalangi upaya kami, tapi masalah utama yang dihadapi dan harus diatasi adalah persoalan distribusi perangkat,” sebut Chen dalam conference call kepada analis.

Pasaran BlackBerry di segmen smartphone high-end telah tergiling dalam beberapa tahun terakhir karena gempuran smartphone dari platform saingan, seperti iPhone (iOS), dan Samsung Galaxy (Android).

Juring pasar global BlackBerry pun kini tercatat telah menyusut hingga tak sampai 1 persen. Apabila kinerja penjualan Priv tak kunjung membaik, maka ada kemungkinan smartphone tersebut merupakan model terakhir yang bakal dibuat oleh BlackBerry.

Chen dulu pernah menyebutkan bahwa pihaknya tak bakal melanjutkan bisnis smartphone -yang selama ini menjadi tulang punggung BlackBerry- apabila terbukti terus menimbulkan kerugian. Tapinya, untuk sementara, Chen mengatakan masih percaya BlackBerry bisa terus membuat ponsel tanpa mengalami kehilangan uang dari produk tersebut.