Diyakini, Tes Kulit Mampu Deteksi Alzheimer sejak Dini

Jakarta: Para ilmuwan meyakini tes kulit mampu mendeteksi dini gejala Alzheimer dan Parkinson.

Meskipun hal tersebut masih menjadi perdebatan di antara para dokter. hingga saat ini tidak ada satu pun pihak yang dapat memastikan kapan penyakit tersebut muncul. Namun. para dokter optimistis penyakit yang menyerang saraf otak tersebut dapat dideteksi 15-20 tahun lebih awal sebelum gejala muncul.

Seorang peneliti dari Central Hospital di University of San Luis Potosi Meksiko. Dr Ildefonso Rodriguez-Leyva melaporkan kulit mampu menjadi media deteksi dini.

Hasil penelitian itu akan dipresentasikan pada April mendatang di American Academy of Neurology. Washington DC oleh Dr Ildefonso. Ia mengemukakan kulit adalah media yang tepat untuk mengetahui gangguan penyakit otak yang tersembunyi.

Bersama rekan-rekannya. Dr Ildefonso menemukan bahwa terdapat penimbunan protein pada sampel kulit yang diambil dari jenazah pengidap Alzheimer. Kemungkinan penimbunan protein juga terjadi di otak para penderita Parkinson. Ia juga menemukan bahwa terdapat perbedaan kulit antara mereka yang sehat dan mereka yang menderita Alzheimer atau Parkinson.

Penelitian tersebut melibatkan 20 pasien Alzheimer. 16 pasien Parkinson. 17 pasien demensia. dan 12 orang yang tidak mengidap penyakit tersebut. Para peneliti mengambil biopsi kulit kecil di belakang telinga masing-masing relawan untuk diuji di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penumpukan protein Tau 7 kali lebih tinggi dalam kulit penderita Alzheimer dan pada penderita Parkinson penumpukan protein alpha-synuclein berada di level 8.

Para peneliti tidak yakin peran protein alpha-synuclein dalam otak. namun pada penderita Parkinson. protein ini memicu penggumpalan sehingga dapat menganggu fungsi saraf normal. Sedangkan protein Tau berperan dalam penurunan fungsi otak pada penderita Alzheimer.

Sel-sel saraf mati biasanya bersinergi dengan molekul Tau yang berfungsi sebagai motor pembawa nutrisi. namun kolaps dan akhirnya malah membuat protein tersebut tidak terorganisasi dengan baik.

Sejauh ini tes kulit dapat menjadi alternatif untuk melihat protein yang  tidak normal dalam kulit sebelum gejala gangguan fungsi otak tersebut benar-benar menyerang. (Time)

Sumber : Metrotvnews.com